CONTOH ARTIKEL SUPERVISI UMUM dan SUPERVISI KLINIS PELAKSANAAN

CONTOH ARTIKEL SUPERVISI UMUM dan SUPERVISI KLINIS
PELAKSANAAN SUPERVISI PENDIDIKAN OLEH
KEPALA SEKOLAH TERHADAP GURU
Oleh: Lia Yuliana, M.Pd

Abstrak
Kegiatan supervisi pendidikan sangat diperlukan oleh guru, karena bagi guru yangbekerja setiap hari di sekolah tidak ada pihak lain yang lebih dekat dan mengetahui dari dalamsegala kegiatannya, kecuali Kepala Sekolah. Guru merupakan salah satu faktor penenturendahnya mutu hasil pendidikan.Dalam rangka pelaksanaan program supervisi pendidikan maka harus mencakupsemua komponen yang terkait dan mempengaruhi terhadap keberhasilan program supervisipendidikan. Keberhasilan tersebut dilihat dari komponen perencanaan, implementasi dandampak dari program supervisi pendidikan.Kepala Sekolah dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai supervisorsecara efektif, maka Kepala Sekolah memiliki kompetensi yaitu kemanusiaan, manajerial, dan teknis. Kesemuanya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Kata Kunci: Supervisi Pendidikan, Kepala Sekolah, Guru

Abstract
Supervision of educational activities are needed by teachers, for teachers who workevery day at school there are no other parties are closer and learned from in all their activities,except the Principal. The teacher is one of the determinants of the low quality of education.In the framework of the implementation of the education supervision program shouldinclude all related components and affect the success of educational supervision program. Thissuccess is viewed from component planning, implementation and impact of educationsupervision program.Principal in carrying out their duties and responsibilities as a supervisor in an effective,then the school principal has the competence of human, managerial, and. technical. All of themare a unity that can not be separated.
Key word : educational supervision, principal, teacher

Pendahuluan
Dewasa ini pendidikan untuk semua(education forall)akan menjadi dambaan setiap orang.Pendidikan seutuhnya(holisticeducation) akan banyak dibicarakan. Manusiaakan sadar bahwa hidup ini membutuhkan belajar, untuk memperoleh pengalaman berarti menemukan kemanusiannya manusia. Orang yang belajar memerlukan bantuan dalam proses pembelajaran. Pembelajaran mendambakan orang yang mampu mendapat bantuan (assisting), mendapat support(supporting) dan diajakuntuktukar menukar (informasi).
Menurut UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang merumuskan tujuan pendidikan yang ingin dicapai yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang martabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta tanggungjawab.
Untuk mencapai tujuan nasional tersebut perlu adanya peningkatan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar guru mempunyai peranan yang sangat penting karena gurulah yang berfungsi secara langsung dalam proses belajar mengajar.
Kepala sekolah menduduki posisi yang strategis di dalam pencapaian keberhasilan suatu sekolah dan berperan sebagai pemimpin pendidikan, administrator dan supervisor(Udik Budi Wibowo,1994:11). Kepala Sekolah sebagai pemimpin karena mempunyai tugas untuk memimpin staf (guru-guru, pegawai dan pesuruh) untuk membina kerjasama yang harmonis antara anggota staf sehingga dapat membangkitkan semangat, serta motivasi kerja sebagai staf yang dipimpin serta meningkatkan suasana yang kondusif.
Kepala sekolah sebagai supervisor pendidikan mempunyai kewajiban membimbing dan membina guru atau staf lainnya. Pembinaan dan bimbingan guru akan berpengaruh besar terhadap kelangsungan dan kelancaran proses belajar mengajar.
Tugas kepala sekolah sebagai supervisor tersebut adalah memberi bimbingan, bantuan dan pengawasan dan penilaian pada masalah-maslah yang berhubungan dengan tehnis penyelenggara dan pengembangan pendidikan, pengajaran yang berupa perbaikan program pengajaran dan kegiatan-kegiatan pendidikan pengajaran untuk dapat menciptakan situasi belajar mengajar yang lebih baik (HartatiSukirman1999: 45).
Meskipun dalam rancangan secara teoritik sudah ada pihak yang diharapkan dapat melakukan supervisi terhadap guru yaitu kepala sekolah namun belum dapat terlaksana dengan efektif. Dalam kenyataannya beberapa tahun terakhir ini terdapat kepala sekolah yang belum dapat menjalankan kegiatan supervisi dengan baik bahkan semakin berkurang keefektifannya. Ini diakibatkan beban kepala sekolah terlalu berat. Selain kepala sekolah guru juga mempunyai beban yang berat. Ini diakibatkan juga karena banyaknya bidang studi yang diajarkan oleh guru disekolah sehingga tampak akan sangat sulit mempertemukan keduanya. Oleh karena itu perlu dicari alternative pemecahannya pelaksanaan supervisi dapat berjalan efektif dan efesian.

LandasanTeori

a. Tujuandan Fungsi Supervisi Pendidikan
Dalam buku pedoman pelaksanaan supervisi pendidikan (2000:11) disebutkan bahwa tujuan supervisi pendidikan adalah perbaikan dan perkembangan proses belajar mengajar secara total, ini berarti bahwa tujuan supervisi tidak hanya memperbaiki mutu guru, tetapi juga membina pertumbuhan profesi guru dalam arti luas termasuk di dalamnya pengadaan fasilitas-fasilitas, pelayanan, kepemimpinan dan pembinaan humanrelation yang baik kepada semua pihak yang terkait.
Soewardji Lazaruth (1991:84) menjelaskan bahwa tujuan dari supervisi klinis yaitu mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih efektif antara lain dengan:
1. Membantu guru agar dapat membantu murid-murid dalam proses belajar mengajar.
2. Membantu guru agar dapat melihat dengan jelas tujuan pendidikan.
3. Membimbing guru agar dapat mengefektifkan penggunaan sumber-sumber belajar.
4. Membnatu guru agar dapat mengevaluasi kemajuan belajar murid.
5. Membantu guru agar dapat menjalankan tugasnya dengan perasaan penuh tanggungjawab.

Menurut pendapat Tim Departemen Pendidikan Kebudayaan Republik Indonesia
b. Tugas dan Tanggung Jawab Kepala Sekolah Sebagai Supervisor
Tugas dan tanggungjawab Kepala Sekolah sebagai supervisor (Hendiyat Soetopo dan
Wasty 1998:42) bertugas mengatur seluruh aspek kurikulum yang berlaku disekolah agar dapat berjalan dengan lancar dan dapat memberikan hasil yang sesuai dengan target yang telah ditentukan. Adapun aspek-aspek kurikulum tersebut, meliputi :
a. Membantu guru-guru dalam merencanakan, melaksanakan dan menilai kegiatan program satuan pelajaran
b. Membantu guru dalam menyusun kegiatan belajar mengajar.
c. Membantu guru dalam menilai proses dan hasil belajar rmengajar
d. Membantu guru dalam menilai hasil belajar siswa
e. Membantu guru dalam menterjemahkan kurikulum kedalam pengajaran

Neagley, sebagaimana dikutip Made Pidarta (1997:67) menulis 10 (sepuluh) tugas supervisor sebagai berikut:
a) Mengembangkan kurikulum
b) Mengorganisasi pengajaran
c) Menyiapkan staf pengajaran
d) Menyiapkan fasilitas belajar
e) Menyiapkanbahan-bahan pelajaran
f) Menyelenggarakan penataran-penataran guru
g) Memberikankonsultasi dan membina anggota staf pengajar
h) Mengkoordinasi layanan terhadap para siswa
i) Mengembangkan hubungan dengan masyarakat
j) Menilai pengajaran

c. Definisi Supervisi
Pengertian supervisi identik dengan pengawas memang tidaklah merupakan suatu kesalahan yang sangat besar, karena aktivitas mengawasi merupakan bagian kecil dari proses supervisi itu sendiri. Hanya perlu ditegaskan bahwa proses supervisi bukan hanya mengawasi suatu proses pekerjaan saja, tapi meliputi semua kegiatan yang berkaitan dengan pencapaian suatu tujuan, seperti mengkoordinir, membimbing, memotivasi, memimpin, mengoreksi, dan banyak lagi.
Secara etimologis supervisi berasal dari bahasa Inggris, to supervise, “mengawasi”.
Dalam Merriam Webster’s Collegiate Dictionary disebutkan bahwa supervisi adalah acritical watchingand directing. Wiles dan Bondi (1986:9) menterjemahkan supervisi sebagai suatu fungsi kepemimpinan umum yang mengkoordinir dan mengelola aktivitas sekolah yang berkaitan dengan pembelajaran. Lebih jauh Piet A. Sehertian mendefinisikan supervisi sebagai suatu usaha memberi layanan kepada guru-guru baik secara individual maupun secara kelompok dalam usaha memperbaiki pengajaran (2000:19). Jelaslah bahwa dalam penerapannya, supervisi merupakan suatu bentuk bimbingan profesional dalam rangka perbaikan suasan belajar mengajar melalui guru-guru.
Supervisi berjalan ketika pertama kali guru direkrut sampai dengan ia dipensiunkan. Berawal dari proses orientasi pegawai baru, guru dikenalkan dengan segala bentuk informasi yang berkaitan dengan kelembagaan, pekerjaan, dan pengembangan diri. Ketika ia sudah melewati masa orientasi, masuk ketahapan bekerja yang sesungguhnya, proses supervisi terus dilakukan. Kinerja dan semua sepak-terjang guru dipantau, dinilai, dan tindaklanjuti, dan
Dikembangkan sampai akhirnya ia sampai ke fase klimaks pekerjaan, pensiun.

ProsesSupervisi

KARIR GURU

Awal

(Rekrutmen)

Akhir karir
(pensiun)

Prosessupervisidalamperjalanankarir guru

d. Tujuan supervisi

Kegiatan supervisi yang dilakukan secara umum bertujuan untuk menjaga kualitas belajar siswa melalui guru dengan cara memberi bimbingan, bantuan dan binaan kepada guru dalam pertumbuhan dan perkembangan karirnya. Dalam tataran praktis, supervisi dilakukan untuk:
1) Menginternalisasikan tujuan pendidikan yang diselenggarakan;
2) Mengintroduksi permasalah-permasalahan yang berkaitan dengan siswa;
3) Peningkatan etos, produktivitas, efektivitas dan efisiensi kerja;
4) Peningkatan profesionalisme; dan
5) Demokratisasi

Kelima hal diatas merupakan dasar operasional yang harus dipegang-teguh oleh seorang supervisor dalam melakukan tugasnya.
e. Bentuk Proses Supervisi
Ada limabentukprosessupervisi yangkitaketahui,yaitu:
1) Supervisi korektif, adalah suatu bentuk bimbingan dan bantuan yang berkaitan dengan upaya perbaikan (koreksi);
2) Supervisi Preventif, kegiatan bimbingan dan bantuan dalam rangka mengantisipasi suatu dampak (bisa kebijakan, ataupun kondisi) agar efektivitas pencapaian tujuan bisa dicapai.
3) Supervisi Konstruktif, adalah suatu kegiatan supervisi yang dimaksudkan untuk mengembangkan suatu operasionalisasi pencapaian tujuan pendidikan menjadi lebih baik dan lengkap.
4) Supervisi Kooperatif, adalah bentuk supervisi yang dilakukan bersama antara supervisor dengan guru. Satu sama lain memiliki insiatif untuk memperbaiki proses, meningkatkan kualitas, dan produktivitas.
5) Supervisi Kreatif, bentuk supervisi yang mencoba mengembangkan halyang betul-betul baru, inovatif.
e. Sasaran dan Komponen Supervisi
Supervisi dengan segala usahanya diarahkan pada pembinaan dan pengembangan aspek-aspek yang terdapat dalam situasi pembelajaran, sehingga akan tercipta suatu situasi yang dapat menunjang pencapaian tujuan pendidikan di sekolah, yang dimaksudkan dengan situasi pembelajaran ialah situasi dimana terjadi proses interaksi antara guru dan murid dalam usaha mencapai tujuan belajar yang telah ditentukan. Tujuan konkret supervisi tersebut menunjukkan tugas-tugas nyata yang harus dilakukan oleh kepala sekolah dalam rangka memperbaiki dan mengembangkan “setting” pembelajaran dalam segala aspeknya, yang berpengaruh kearah yang lebih baik, dan hal tersebut juga menjadi pedoman kegiatan bagi kepala sekolah sebagai seorang supervisor.

Menurut Alfonso (1991:45),
“They should be made aware of the criteria by which they will be assessed which should include: class management, relevant subject expertise, appropriate teaching skills, adequacy of lesson preparation, use of resources, understanding of the needs ofpupils and the ability to establish appropriate relationships with pupils and colleagues”.

Ada beberapa hal yang relevan untuk pengembangan profesional guru, seharusnya guru menyadari tentang kriteria yang akan dinilai atau diamati antara lain: pengelolaan kelas, relevansi ilmu, keahlian mengajar yang sesuai, ketepatan persiapan mengajar, penggunaan sumber-sumber sebagai informasi, pemahanan kebutuhan siswa dan kemampuan menciptakan hubungan yang tepat/sesuai antara siswa dan teman-temannya.

Gambar 1
Faktor-Faktor Pendukung Pembelajaran

Sumber:Dasar-dasarSupervisi,SuharsimiArikunto(2004: 32)

Melihat bagan tersebut, terdapat 6 (enam) faktor yang dapat menentukan hasil dari suatu proses pembelajaran, yaitu:
a) Siswa adalah bahan yang akan diolah dalam suatu proses pembelajaran dengan berbagai tujuan yaitu dikuasainya segenap pengetahuan, kemampuan, keterampilan dan lain-lain oleh siswa setelah proses pembelajaran selesai dilaksanakan.
b) Guru adalah pelaku yang berperan langsung dalam proses pembelajaran mengelola siswa, dengan kemampuan profesionalnya.
c) Kurikulum adalah komponen yang mengatur bagaimana guru harus melaksanakan proses pembelajaran dengan bahan, waktu, metode, dan lain-lain serta target yang akan dicapai.
d) Sarana-prasarana adalah berupa hal atau konsep yang membantu untuk memperjelas konsep, dengan sarana dan prasarana yang cukup, sehingga konsep dari guru akan lebih mudah diterima oleh siswa
e) Pengelolaan adalah tindakan dalam melakukan pengelolaan, pengaturan berbagai komponen yang ada, seperti: siswa, sarana yang dibutuhkan, metode atau cara-cara yang paling tepat yang akan dilakukan oleh guru sehingga tercapainya tujuan yang diharapkan.
f) Lingkungan adalah hal-hal yang ada di sekitar pelaksanaan pembelajaran, yang berpengaruh langsung atau tidak langsung terhadap pelaksanaan pembelajaran serta menentukan hasil pembelajaran.

Hal-hal tersebut diatas yang seharusnya menjadi objek atau sasaran supervisi, karena supervisi yang bertujuan menghasilkan mutu pembelajaran. Agar tidak terjadi campur aduk, menurut objek yang harus disupervisi, maka
Suharsimi Arikunto (2004: 133) berpendapat,

“supervisi dibagi menjadi 3 (tiga) yaitu: (a) supervisi akademik, yang menitikberatkan pengamatan supervisor pada masalah-masalah akademik, yaitu hal-hal yang langsung berada dalam lingkungan kegiatan pembelajaran pada waktu siswa sedang dalam proses mempelajari sesuatu; (b) supervisi administrasi, yang menitikberatkan pengamatan supervisor pada aspek-aspek administrasi yang berfungsi sebagai pendukung dan pelancar terlaksananya pembelajaran; (c) supervisi lembaga, yang menitikberatkan atau menyebarkan objek pengamatan supervisor pada aspek-aspek yang berada di sekolah, jika supervisi akademik dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran maka supervisi lembaga dimaksudkan untuk meningkatkan nama baik sekolah atau kinerja sekolah secara keseluruhan”.

g. Prinsip-Prinsip Supervisi

Piet Sahertian (2000: 20) menyatakan,

“masalah yang dihadapi dalam melaksanakan supervisi di lingkungan pendidikan adalah bagaimana cara mengubah pola pikir yang bersifat otokrat dan korektif menjadi sikap yang kreatif. Suatu sikap yang menciptakan situasi dan relasi dimana guru-guru merasa aman dan merasa diterima sebagai subyek yang dapat berkembang sendiri. Untuk itu supervisi harus dilaksanakan berdasarkan data, fakta yang objektif”.
Sugiyanto (1988: 2) berikut:

“(a) ilmiah, yang mencakup unsur: (1) sistimatis berarti dilaksanakan secara teratur, berencana dan kontinyu, (2) obyektif artinya data yang didapatkan berdasarkan pada observasi nyata bukan tafsiran pribadi, (3) menggunakan instrumen yang dapat memberikan informasi tentang proses belajar mengajar yang sebenarnya, (b) demokratis, (c) kooperatif, (d) konstruktif dan kreatif”.

Dari prinsip-prinsip supervisi dapat diketahui maknanya bahwa supervisi sebagai suatu kegiatan untuk dilakukan terencana, rutin, berkelanjutan yang dilakukan oleh kepala sekolah, yang menggunakan data dari hasil pergamatan atau observasi nyata menggunakan instrumen yang dapat memberikan informasi yang sebenarnya, sama sekali bukan hasil pelajaran pribadi supervisor. Hubungan antara supervisor bukan bersifat hirarchis yang memposisikan atasan dengan bawahan, namun hubungan kesejajaran, hubungan kemanusiaan yang akrab, saling percaya, yang di supervisi merasa ada sesuatu yang dibutuhkan yaitu bantuan maupun bimbingan yang akan diberikan oleh supervisor. Pembinaan yang diberikan supervisor sebagai sharing of Idea, untuk saling memberi masukan, sehingga supervisi suatu interaksi antara supervisor dan yang disupervisi untuk saling memberikan umpan balik. Langkah pembinaan yang dilakukan supervisor dipercaya mampu dilaksanakan oleh yang di supervisi dan yang di supervisi dengan tidak terpaksa menerima saran supervisor. Hubungan yang demokratis bukan otokratis diharapkan menumbuhkan kreativitas dari para guru.

h. Tehnik-Tehnik Supervisi

Supervisi merupakan salah satu usaha untuk membantu meningkatkan dan mengembangkan kemampuan guru dalam proses pengajaran. Agar supervisi dapat efektif, supervisor diharapkan memiliki pemahaman untuk memilih teknik-teknik supervisi yang cocok dengan tujuan yang diharapkan. Piet Sahertian (2000: 52) mengemukakan, “Ada beberapa teknik supervisi, antara lain: (a) teknik yang bersifat individual: (1) berkunjung kelas, (2) observasi kelas, (3) percakapan pribadi, (4) intervitasi, (5) penyeleksi berbagai sumber materi untuk mengajar, (6) menilai diri sendiri”.
Meskipun dalam rancangan secara teoritik sudah ada pihak yang diharapkan dapat melakukan supervisi terhadap guru yaitu kepala sekolah namun belum dapat terlaksana dengan efektif. Dalam kenyataannya beberapa tahun terakhir ini terdapat kepala sekolah yang belum dapat menjalankan kegiatan supervisi dengan baik bahkan semakin berkurang keefektifannya. Ini diakibatkan beban kepala sekolah terlalu berat. Selain kepala sekolah guru juga mempunyai beban yang berat. Ini diakibatkan juga karena banyaknya bidang studi yang diajarkan oleh guru disekolah sehingga tampak akan sangat sulit mempertemukan keduanya. Oleh karena itu perlu dicari alternative pemecahannya pelaksanaan supervisi dapat berjalan efektif dan efesian.

PENUTUP

Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan mempunyai peran yang sangat besar dalam mengembangkan mutu pendidikan sekolah. Kedudukan kepala sekolah dalam hal ini begitu pentingnya, sehingga ada anggapan tentang “bagaimana” suatu sekolah sangat tergantung pada “bagaimana” kepala sekolahnya. Keberhasilan sekolah adalah keberhasilan kepala sekolah. Kepala Sekolah akan berhasil apabila mereka memahami keberadaan sekolah sebagai oiganisasi yang kompleks dan unik, serta mampu melaksanakan peran kepala sekolah sebagai seorang yang diberi amanat dan tanggung jawab untuk memimpin sekolah.
Ditinjau dari struktur organisasi di sekolah, kedudukan guru berada di bawah kepala sekolah. Kedudukan guru adalah sentral, artinya guru menduduki tempat inti dari fungsi sekolah. Guru melakukan tugas mengajar, mendidik, melatih dan membimbing. Kepala sekolah dalam upaya untuk memberdayakan guru, harus mampu menolong para guru dan staf administrasi untuk mencapai tujuan bersama yang telah ditetapkan, memberi kesempatan untuk mengemukakan gagasan, membangkitkan semangat kerja yang tinggi, menciptakan suasana kerja yang menyenangkan, aman dan penuh semangat.
Bantuan terhadap guru dalam melaksanakan tugas-tugas tersebut, dapat dilakukan melalui pelaksanaan supervisi pendidikan. Supervisi pendidikan memberikan tekanan pada proses pembentukan dan pengembangan kemampuan profesional guru, yang dimulai dengan mengadakan perbaikan dalam cara mengajar guru di kelas, dengan cara ini diharapkan siswa dapat belajar dengan baik, sehingga tujuan pengajaran dapat dicapai secara maksimal.
Kepala sekolah sebagai supervisor, diharapkan dapat melaksanakan tugasnya dengan melakukan supervisi terhadap proses pembelajaran guru di kelas, dalam rangka meningkatkan kemampuan profesional guru yang tercermin pada kemampuan mengelola proses pembelajaran guru di kelas, yang meliputi: menguasai bahan pelajaran dalam pengertian menguasai bidang studi atau mata pelajaran yang dipegangnya, merencanakan program pembelajaran, melaksanakan dan memimpin/mengelola proses belajar, menilai kemajuan proses pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Alfonso, R.J.,Firth, G.R., & Neville, R.F. (1990). Instructional supervision: behavioral system .

Boston: Allyn and Bacon, Inc

Hartati Sukirman, dkk. 1999. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. FIP IKIP Yogyakarta.
Hendiyat Soetopo dan Wasty. 1998. Kepemimpinan Yang Efektif. Yogyakarta : Gadjah Mada

University.

Made Pidarta. 1997. Pemikiran tentang Supervisi Pendidikan. Surabaya : Sarana Press. Ngalim Purwanto. (2003). Administrasi dan supervisi pendidikan. Bandung: PT Remaja
Risdakarya.

Piet Sahertian. (2000). Konsep dasar dan tehnik supervisi pendidikan dalam rangka pengembangan sumber daya manusia. Jakarta: Rineka Cipta.
Suharsimi Arikunto. (2004). Dasar-Dasar Supervisi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

Udik Budi Wibowo. 1994. Profesionalisme Kepala Sekolah. FIP IKIP Yogyakarta

UU No. 20 Tahun 2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasioanal. Bandung : Citra

Umbara.
ARTIKEL
JUDUL :
PELAKSANAAN SUPERVISI PENDIDIKAN OLEHKEPALA SEKOLAH TERHADAP GURU

PENULIS:
Lia Yuliana, M.Pd

ALAMAT WEB
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/Artikel%20Supervisi%20PPM_0.pdf

CONTOH ARTIKEL SUPERVISI AKADEMIK
SUPERVISI AKADEMIK DALAM KAITANNYA DENGANPENJAMINAN MUTUPENDIDIKAN (Makalah disampaikan padaWorkshop Penjaminan Mutu) ParaKepalaSekolah SeKabupaten Karangasem
28 Oktober 2006
———————————————————————
Oleh:Nyoman Dantes
1. Pendahuluan
Dalam rangka pembaharuan sistem pendidikan nasional telah ditetapkan visi, misi dan strategi pembangunan pendidikan nasional. Visi pendidikan tersebut adalah terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Terkait dengan visi tersebut telah ditetapkan serangkaian prinsip untuk dijadikan landasan dalam pelaksanaan reformasi pendidikan.
Salah satu prinsip tersebut adalah bahwa pendidikan diselenggarakan sebagai proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat, di mana dalam proses tersebut harus ada pendidik yang memberikan keteladanan dan mampu membangun kemauan, serta mengembangkan potensi dan kreativitas peserta didik. Implikasi dari prinsip ini adalah pergeseran paradigma proses pendidikan, yaitu dari paradigma pengajaran ke paradigma pembelajaran.

Paradigma pengajaran yang telah berlangsung sejak lama lebih menitikberatkan peran pendidik dalam mentransfer pengetahuan kepada peserta didik. Paradigma tersebut bergeser pada paradigma pembelajaran yang memberikan peran lebih banyak kepada peserta didik untuk mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Untuk menyelenggarakan proses pendidikan yang didasarkan paradigma baru tersebut, diperlukan acuan dasar bagi setiap satuan pendidikan yang meliputi serangkaian kriteria dan kriteria minimal sebagai pedoman, yang saat ini dikenal dengan delapan standar mutu nasional pendidikan.

Dalam kaitan dengan hal di atas, tujuan standar mutu pendidikan ditetapkan adalah untuk menjamin mutu proses transpormasi, mutu instrumental dan mutu kelulusan, yang meliputi : (1) standar isi, (2) standar proses, (3) standar kompetensi lulusan, (4) standar pendidik dan tenaga kependidikan, (5) standar sarana dan prasarana, (6) standar pengelolaan, (7) standar pembiayaan, dan (8) standar penilaian pendidikan. (Bab IX UUSPN). Bila digambarkan dalam suatu diagram dapat diwujudkan sbb:

Standar Standar Standar Standar Standar Standar
Isi Tenaga Sar. &
Pras. Pembia-
yaan Penge-
loaan Penilaian

Peserta
didik

Standar Proses Pembelajaran

Standar Komp. Lulusan

Lulusan

Lingkungan

Gambar 1: Keterkaitan antara Aspek-Aspek Standar Mutu

2. Kajian Konsepsional mengenai Penjaminan mutu dalam kaitannya dengan
Supervisi Akademik

1.Hakekat Penjaminan Mutu

Bapak pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara, sejak tahun 1920an telah mengumandangkan pemikiran bahwa pendidikan pada dasarnya adalah memanusiakan manusia. Untuk itu suasana yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan adalah suasana yang berprinsip pada kekeluargaan, kebaikan hati, empati, cintakasih dan penghargaan terhadap masing-masing anggotanya, tidak ada pendidikan tanpa dasar cinta kasih. Dengan demikian pendidikan hendaknya membantu peserta didik untuk berkepribadian merdeka, sehat fisik, sehat mental, cerdas, serta menjadi anggota masyarakat yang berguna. Manusia merdeka adalah seseorang yang mampu berkembang secara utuh dan selaras dari segala aspek kemanusiannya dan mampu menghargai dan menghormati kemanusiaan setiap orang. Metode pendidikan yang paling tepat adalah sistem among yaitu metode pembelajaran yang berdasarkan pada asih, asah dan asuh. Sementara itu prinsip penyelenggaraan pendidikan perlu didasarkan pada “Ing ngarso sung tulodho, Ing madyo mangun karso, Tut wuri handayani”.
Tuntutan untuk melakukan pembaharuan yang sesuai dengan harkat peserta didik sebagai pribadi, serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, telah melahirkan suatu cabang disiplin keilmuan yang relatif baru dan semula dikenal sebagai didaktik & metodik menjadi teknologi pembelajaran. Teknologi pembelajaran didefinisikan sebagai

teori dan praktek dalam perancangan, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, dan evaluasi proses dan sumber untuk keperluan belajar. Dalam bidang teknologi pembelajaran telah dikembangkan sejumlah teori dan praktek pembelajaran yang bersifat preskriptif, misalnya teori pembelajaran elaborasi, pembelajaran pengorganisasian awal, algoheuristik, pembelajaran inkuiri, dan pemaparan komponen.

Mengingat bahwa pendidikan itu merupakan suatu sistem dengan komponen- komponen yang saling berkaitan, maka keseluruhan sistem harus sesuai dengan ketentuan yang diharapkan atau standar. Untuk itu masing-masing komponen dalam sistem harus pula sesuai dengan standar yang ditentukan bersama. Hal ini mesti dilakukan dalam kaitan terjadinya penjaminan mutu pendidikan itu sendiri, karena; penjaminan mutu adalah proses penetapan dan pemenuhan standar mutu pengelolaan secara konsisten dan berkelanjutan, sehingga konsumen, produsen, dan pihak lain yang berkepentingan memperoleh kepuasan. Bila dikaitkan dengan pengelolaan pendidikan, penjaminan mutu yang dimaksud adalah proses penetapan dan pemenuhan standar mutu pengelolaan pendidikan secara konsisten dan berkelanjutan, sehingga stakeholders memperoleh kepuasan. Untuk itu, dalam PP 19/2005 delapan standar tersebut di atas merupakan aspek-aspek yang harus memenuhi standar mutu dalam kaitan dengan penjaminan mutu suatu lembaga.

Sehubungan dengan kerangka konsep di atas, pada awal perkembangan pendidikan, masyarakatlah yang lebih berperan dalam menentukan standar mutu tersebut.– masyarakat menentukan apakah lulusan pendidikannya bermutu dengan memberikan tugas dan penghargaan kepada mereka. Dalam perkembangan selanjutnya dengan meluasnya penyelenggaraan pendidikan formal pemerintah lebih berperan dalam menentukan standar mutu tersebut. Dalam kaitannya dengan itu, konsep penjaminan mutu dapat ditinjau dari dua aspek yaitu : (1) aspek deduktif ; dimana lembaga pendidikan/sekolah mampu menetapkan dan mewujudkan visinya melalui pelaksanaan misinya, dan (2) aspek induktif; dimana lembaga pendidikan/sekolah, mampu memenuhi kebutuhan stakeholders (kebutuhan kemasyarakat/societal needs, kebutuhan dunia kerja/industrial needs, kebutuhan profesional/profesional needs). Konsep di atas dapat
divisualisasi dalam gambar berikut.

MUTU

PENJAMIN MUTU (Eksternal) BAN/Lembaga
lain

PENJAMIN MUTU (Internal) PT Ybs

3. Dasar Formal Supervisi Akademik

Dalam konstalasi antar delapan standar yang digambarkan pada pendahuluan, terlihat bahwa standar proses adalah merupakan suatu variabel yang sangat dipedulikan untuk dapat menghasilkan output yang memiliki kualitas kompetitif. Kualitas output tersebut sangat dipengaruhi oleh kualitas instrumental dan lingkungan. Maka dari itu sangat diperlukan terjadinya suatu proses pendidikan/pembelajaran yng optimal. Untuk menterjadikan proses pembelajaran tersebut optimal diperlukan berbagai usaha untuk perbaikan dan peningkatan, seperti penyiapan sarana, peningkatan kualitas pengelolaan, dan lain sebagainya, termasuk pelaksanaan supervisi terhadap pengelolaan proses pembelajaran.

Dalam kaitan dengan itu, dalam PP 19/2005 pasal 55 disebutkan bahwa: pengawasan satuan pendidikan meliputi pemantauan, supervisi, evaluasi pelaporan, dan tindak lanjut hasil pengawasan. Sedangkan pasal 57 menyebutkan bahwa : supervisi meliputi supervisi manajerial dan akademik dilakukan secara teratur dan berkesinambungan oleh pengawas atau penilik satuan pendidikan dan kepala satuan pendidikan. Selanjutnya dalam penjelasan pasal 57 dinyatakan yang dimaksud supervisi akademik meliputi aspek-aspek pelaksanaan proses pembelajaran.

Dengan demikian jelas bahwa supervisi akademik bisa dilakukan oleh pengawas/penilik dan oleh kepala satuan pendidikan, dengan tujuan untuk perbaikan proses pembelajaran demi terjadinya optimalisasi peningkatan kualitas pembelajaran, yang pada gilirannya berdampat pada kualitas output. Bila dihubungkan dengan sisi akademik, supervisi seperti ini disebut juga dengan Supervisi Klinis (agar dirujuk tersendiri), yang telah terbukti berdampak signifikan pada kualitas pengelola proses pembelajaran.

4. Pengawasan Proses Pembelajaran

Pengawasan proses pembelajaran adalah salah satu bentuk penjaminan mutu yang dilakukan secara internal (sekolah) untuk memberikan layanan bagi terjadinya proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Sebagai bentuk pengawasan internal, pengawasan proses pembelajaran menjadi tanggungjawab Kepala Sekolah selaku supervisor pembelajaran, guru bersangkutan sebagai proses evaluasi dan refleksi diri, serta oleh sejawat (guru) sebagai bentuk kepedulian terhadap mutu pembelajaran bidang sejenis/serumpun. Pengawasan proses pembelajaran dilakukan pada aspek perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian proses pembelajaran, yang dilaksanakan pada awal, tengah, dan akhir semester.

Pengawasan proses pembelajaran dalam pelaksanaanya mencakup kegiatan Pemantauan dilakukan dalam kerangka pengumpulan data, supervisi dilakukan dalam upaya pembinaan profesional guru, evaluasi dilakukan untuk mengidentifikasi sejauhmana proses pembelajaran telah dilaksanakan berdasarkan rencana, pelaporan dilakukan sebagai bentuk penyampaian hasil evaluasi, dan tindak lanjut adalah program yang perlu dikembangkan sebagai implikasi dari hasil evaluasi. Prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam melakukan pengawasan/supervisi antara lain adalah, prinsip:

a. Tanggung jawab dan kewenangan
Pengawasan pembelajaran dilaksanakan sebagai bagian dari tanggung jawab
dan kewenangan Kepala Sekolah selaku supervisor pembelajaran, guru bersangkutan, dan sejawat guru sesuai dengan tanggung jawab dan kewenanangan masing-masing.

b. Berkelanjutan
Pengawasan pembelajaran dilaksanakan secara periodik dan terprogram
yang harus diikuti dengan kegiatan tindak lanjut.

c. Mendidik
Pengawasan pembelajaran dilaksanakan dalam fungsi pendidikan, ditujukan untuk perbaikan mutu pembelajaran dan terfokus pada aktivitas pembelajaran.

d. Pengembangan profesi
Pengawasan pembelajaran dilaksanakan dalam fungsi pengembangan
profesi guru selaku agen pembelajaran.

e. Kerjasama kemitraan
Pengawasan pembelajaran dilakukan dalam bentuk kerjasama kemitraan dengan mengedepankan proses sentuhan kemanusiaan (high touch) sehingga membangkitkan semangat kerja optimal bagi guru.

f. Demokrasi
Pengawaan pembelajaran dilaksanakan dalam suasana keterbukaan dan
kebersamaan.

Agar tujuan pengawasan mencapai sasaran, petugas yang melakukan pengawasan terhadap proses pembelajaran adalah yang memenuhi persyaratan sebagai berikut.

a. Memiliki pemahaman dan berpengalaman dalam melaksanakan proses pembelajaran yang sesuai dengan standar proses pembelajaran dalam rumpun matapelajaran tertentu.

b. Memiliki pemahaman dan kemampuan dalam melaksanakan seluruh rangkaian kegiatan pengawasan proses pembelajaran.

c. Memiliki kemampuan memotivasi diri dan orang lain untuk mencapai standar proses pembelajaran yang ditetapkan.

d. Mampu menunjukkan keteladanan dalam sikap dan perilaku yang dapat membantu guru untuk mencapai kinerja ke arah standar proses pembelajaran yang ditetapkan.

e. Mampu menunjukkan kinerja pembelajaran yang mengaplikasikan prinsip-prinsip sebagaimana ditetapkan dalam standar proses pembelajaran.

Pengawasan proses pembelajaran sebagai bentuk penjaminan mutu pembelajaran, dilakukan dengan mekanisme sebagai berikut.

a. Pemantauan

1) Kegiatan pembelajaran yang perlu dipantau adalah perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, dan penilaian hasil pembelajaran sesuai dengan ketentuan minimal atau standar yang ditetapkan untuk masing-masing kegiatan pembelajaran dimaksudkan.

2) Kegiatan pemantauan diselenggarakan dengan menggunakan teknik pengamatan, pencatatan, perekaman, wawancara, diskusi kelompok terfokus, kuesioner dan teknik pengumpulan data lain yang relevan.

b. Supervisi

1) Kegiatan supervisi pembelajaran meliputi perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, dan penilaian hasil pembelajaran sesuai dengan ketentuan minimal atau standar yang ditetapkan untuk masing-masing kegiatan pembelajaran.

2) Supervisi pembelajaran diselenggarakan dengan menggunakan teknik pemberian contoh, saran, nasehat, dan diskusi secara perorangan, kelompok, atau klasikal kepada guru melalui media lisan, tulisan, dan atau audio visual.

c. Evaluasi

1) Evaluasi pembelajaran untuk menentukan kualitas pembelajaran secara keseluruhan, mencakup kegiatan (1) perencanaan proses pembelajaran, (2) pelaksanaan proses pembelajaran, dan (3) penilaian hasil pembelajaran sesuai dengan ketentuan minimal atau standar yang ditetapkan untuk masing-masing kegiatan pembelajaran.

2) Evaluasi proses pembelajaran diselenggarakan dengan cara:

a) membandingkan data yang diperoleh berkaitan dengan proses pembelajaran dengan ketentuan minimal atau standar yang ditetapkan untuk masing-masing kegiatan pembelajaran,

b) mengidentifikasi kekuatan kinerja yang dapat ditunjukkan oleh guru dalam proses pembelajaran,

c) mengidentifikasi kondisi, kemampuan, serta suasana yang belum terlaksana oleh guru dalam proses pembelajaran.

3) Evaluasi proses pembelajaran dapat ditujukan kepada perorangan dan atau kelompok dengan memfokuskan pada keseluruhan kinerja guru dalam proses pembelajaran.

d. Pelaporan

Hasil kegiatan pemantauan, supervisi, dan evaluasi terhadap masing-masing kegiatan proses pembelajaran dilaporkan oleh pelaksana pengawasan kepada pihak-pihak yang berkepentingan untuk ditindaklanjuti.

e. Tindak lanjut

1) Tindak lanjut dilakukan sebagai implikasi dari hasil pemantauan, supervisi, dan evaluasi baik yang berkenaan dengan perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, maupun penilaian hasil pembelajaran.

2) Bentuk program tindak lanjut yang dapat dilakukan oleh pihak terkait berkaitan dengan hasil laporan pengawasan antara lain adalah:

a) pemberian penguatan dan penghargaan terhadap guru yang telah memenuhi standar,

b) pemberian teguran yang bersifat mendidik terhadap guru yang belum memenuhi standar,

c) pemberian latihan atau kesempatan untuk mengikuti pelatihan/
penataran lebih lanjut,

5. Penutup

Demikianlah beberapa pokok pikiran yang disampaikan dalam diskusi ini, semoga dapat menstimulasin peserta untuk lebih lanjut memikirkan kondisi pendidikan kita, dan membuat kreasi-kreasi inovatif demi peningkatan kualitas sumber daya bangsa dimasa depan.

JUDUL
SUPERVISI AKADEMIK DALAM KAITANNYA DENGAN PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN (Makalah disampaikan pada Workshop Penjaminan Mutu) Para Kepala Sekolah Se Kabupaten Karangasem 28 Oktober 2006

PENULIS
Nyoman Dantes

ALAMAT WEB
http://www.undiksha.ac.id/e-learning/staff/images/img_info/4/lt_14-89.pdf

Aside | This entry was posted in CONTOH ARTIKEL SUPERVISI UMUM dan SUPERVISI KLINIS PELAKSANAAN. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s