CONTOH ARTIKEL SUPERVISI UMUM dan SUPERVISI KLINIS PELAKSANAAN

CONTOH ARTIKEL SUPERVISI UMUM dan SUPERVISI KLINIS
PELAKSANAAN SUPERVISI PENDIDIKAN OLEH
KEPALA SEKOLAH TERHADAP GURU
Oleh: Lia Yuliana, M.Pd

Abstrak
Kegiatan supervisi pendidikan sangat diperlukan oleh guru, karena bagi guru yangbekerja setiap hari di sekolah tidak ada pihak lain yang lebih dekat dan mengetahui dari dalamsegala kegiatannya, kecuali Kepala Sekolah. Guru merupakan salah satu faktor penenturendahnya mutu hasil pendidikan.Dalam rangka pelaksanaan program supervisi pendidikan maka harus mencakupsemua komponen yang terkait dan mempengaruhi terhadap keberhasilan program supervisipendidikan. Keberhasilan tersebut dilihat dari komponen perencanaan, implementasi dandampak dari program supervisi pendidikan.Kepala Sekolah dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai supervisorsecara efektif, maka Kepala Sekolah memiliki kompetensi yaitu kemanusiaan, manajerial, dan teknis. Kesemuanya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Kata Kunci: Supervisi Pendidikan, Kepala Sekolah, Guru

Abstract
Supervision of educational activities are needed by teachers, for teachers who workevery day at school there are no other parties are closer and learned from in all their activities,except the Principal. The teacher is one of the determinants of the low quality of education.In the framework of the implementation of the education supervision program shouldinclude all related components and affect the success of educational supervision program. Thissuccess is viewed from component planning, implementation and impact of educationsupervision program.Principal in carrying out their duties and responsibilities as a supervisor in an effective,then the school principal has the competence of human, managerial, and. technical. All of themare a unity that can not be separated.
Key word : educational supervision, principal, teacher

Pendahuluan
Dewasa ini pendidikan untuk semua(education forall)akan menjadi dambaan setiap orang.Pendidikan seutuhnya(holisticeducation) akan banyak dibicarakan. Manusiaakan sadar bahwa hidup ini membutuhkan belajar, untuk memperoleh pengalaman berarti menemukan kemanusiannya manusia. Orang yang belajar memerlukan bantuan dalam proses pembelajaran. Pembelajaran mendambakan orang yang mampu mendapat bantuan (assisting), mendapat support(supporting) dan diajakuntuktukar menukar (informasi).
Menurut UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang merumuskan tujuan pendidikan yang ingin dicapai yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang martabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta tanggungjawab.
Untuk mencapai tujuan nasional tersebut perlu adanya peningkatan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar guru mempunyai peranan yang sangat penting karena gurulah yang berfungsi secara langsung dalam proses belajar mengajar.
Kepala sekolah menduduki posisi yang strategis di dalam pencapaian keberhasilan suatu sekolah dan berperan sebagai pemimpin pendidikan, administrator dan supervisor(Udik Budi Wibowo,1994:11). Kepala Sekolah sebagai pemimpin karena mempunyai tugas untuk memimpin staf (guru-guru, pegawai dan pesuruh) untuk membina kerjasama yang harmonis antara anggota staf sehingga dapat membangkitkan semangat, serta motivasi kerja sebagai staf yang dipimpin serta meningkatkan suasana yang kondusif.
Kepala sekolah sebagai supervisor pendidikan mempunyai kewajiban membimbing dan membina guru atau staf lainnya. Pembinaan dan bimbingan guru akan berpengaruh besar terhadap kelangsungan dan kelancaran proses belajar mengajar.
Tugas kepala sekolah sebagai supervisor tersebut adalah memberi bimbingan, bantuan dan pengawasan dan penilaian pada masalah-maslah yang berhubungan dengan tehnis penyelenggara dan pengembangan pendidikan, pengajaran yang berupa perbaikan program pengajaran dan kegiatan-kegiatan pendidikan pengajaran untuk dapat menciptakan situasi belajar mengajar yang lebih baik (HartatiSukirman1999: 45).
Meskipun dalam rancangan secara teoritik sudah ada pihak yang diharapkan dapat melakukan supervisi terhadap guru yaitu kepala sekolah namun belum dapat terlaksana dengan efektif. Dalam kenyataannya beberapa tahun terakhir ini terdapat kepala sekolah yang belum dapat menjalankan kegiatan supervisi dengan baik bahkan semakin berkurang keefektifannya. Ini diakibatkan beban kepala sekolah terlalu berat. Selain kepala sekolah guru juga mempunyai beban yang berat. Ini diakibatkan juga karena banyaknya bidang studi yang diajarkan oleh guru disekolah sehingga tampak akan sangat sulit mempertemukan keduanya. Oleh karena itu perlu dicari alternative pemecahannya pelaksanaan supervisi dapat berjalan efektif dan efesian.

LandasanTeori

a. Tujuandan Fungsi Supervisi Pendidikan
Dalam buku pedoman pelaksanaan supervisi pendidikan (2000:11) disebutkan bahwa tujuan supervisi pendidikan adalah perbaikan dan perkembangan proses belajar mengajar secara total, ini berarti bahwa tujuan supervisi tidak hanya memperbaiki mutu guru, tetapi juga membina pertumbuhan profesi guru dalam arti luas termasuk di dalamnya pengadaan fasilitas-fasilitas, pelayanan, kepemimpinan dan pembinaan humanrelation yang baik kepada semua pihak yang terkait.
Soewardji Lazaruth (1991:84) menjelaskan bahwa tujuan dari supervisi klinis yaitu mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih efektif antara lain dengan:
1. Membantu guru agar dapat membantu murid-murid dalam proses belajar mengajar.
2. Membantu guru agar dapat melihat dengan jelas tujuan pendidikan.
3. Membimbing guru agar dapat mengefektifkan penggunaan sumber-sumber belajar.
4. Membnatu guru agar dapat mengevaluasi kemajuan belajar murid.
5. Membantu guru agar dapat menjalankan tugasnya dengan perasaan penuh tanggungjawab.

Menurut pendapat Tim Departemen Pendidikan Kebudayaan Republik Indonesia
b. Tugas dan Tanggung Jawab Kepala Sekolah Sebagai Supervisor
Tugas dan tanggungjawab Kepala Sekolah sebagai supervisor (Hendiyat Soetopo dan
Wasty 1998:42) bertugas mengatur seluruh aspek kurikulum yang berlaku disekolah agar dapat berjalan dengan lancar dan dapat memberikan hasil yang sesuai dengan target yang telah ditentukan. Adapun aspek-aspek kurikulum tersebut, meliputi :
a. Membantu guru-guru dalam merencanakan, melaksanakan dan menilai kegiatan program satuan pelajaran
b. Membantu guru dalam menyusun kegiatan belajar mengajar.
c. Membantu guru dalam menilai proses dan hasil belajar rmengajar
d. Membantu guru dalam menilai hasil belajar siswa
e. Membantu guru dalam menterjemahkan kurikulum kedalam pengajaran

Neagley, sebagaimana dikutip Made Pidarta (1997:67) menulis 10 (sepuluh) tugas supervisor sebagai berikut:
a) Mengembangkan kurikulum
b) Mengorganisasi pengajaran
c) Menyiapkan staf pengajaran
d) Menyiapkan fasilitas belajar
e) Menyiapkanbahan-bahan pelajaran
f) Menyelenggarakan penataran-penataran guru
g) Memberikankonsultasi dan membina anggota staf pengajar
h) Mengkoordinasi layanan terhadap para siswa
i) Mengembangkan hubungan dengan masyarakat
j) Menilai pengajaran

c. Definisi Supervisi
Pengertian supervisi identik dengan pengawas memang tidaklah merupakan suatu kesalahan yang sangat besar, karena aktivitas mengawasi merupakan bagian kecil dari proses supervisi itu sendiri. Hanya perlu ditegaskan bahwa proses supervisi bukan hanya mengawasi suatu proses pekerjaan saja, tapi meliputi semua kegiatan yang berkaitan dengan pencapaian suatu tujuan, seperti mengkoordinir, membimbing, memotivasi, memimpin, mengoreksi, dan banyak lagi.
Secara etimologis supervisi berasal dari bahasa Inggris, to supervise, “mengawasi”.
Dalam Merriam Webster’s Collegiate Dictionary disebutkan bahwa supervisi adalah acritical watchingand directing. Wiles dan Bondi (1986:9) menterjemahkan supervisi sebagai suatu fungsi kepemimpinan umum yang mengkoordinir dan mengelola aktivitas sekolah yang berkaitan dengan pembelajaran. Lebih jauh Piet A. Sehertian mendefinisikan supervisi sebagai suatu usaha memberi layanan kepada guru-guru baik secara individual maupun secara kelompok dalam usaha memperbaiki pengajaran (2000:19). Jelaslah bahwa dalam penerapannya, supervisi merupakan suatu bentuk bimbingan profesional dalam rangka perbaikan suasan belajar mengajar melalui guru-guru.
Supervisi berjalan ketika pertama kali guru direkrut sampai dengan ia dipensiunkan. Berawal dari proses orientasi pegawai baru, guru dikenalkan dengan segala bentuk informasi yang berkaitan dengan kelembagaan, pekerjaan, dan pengembangan diri. Ketika ia sudah melewati masa orientasi, masuk ketahapan bekerja yang sesungguhnya, proses supervisi terus dilakukan. Kinerja dan semua sepak-terjang guru dipantau, dinilai, dan tindaklanjuti, dan
Dikembangkan sampai akhirnya ia sampai ke fase klimaks pekerjaan, pensiun.

ProsesSupervisi

KARIR GURU

Awal

(Rekrutmen)

Akhir karir
(pensiun)

Prosessupervisidalamperjalanankarir guru

d. Tujuan supervisi

Kegiatan supervisi yang dilakukan secara umum bertujuan untuk menjaga kualitas belajar siswa melalui guru dengan cara memberi bimbingan, bantuan dan binaan kepada guru dalam pertumbuhan dan perkembangan karirnya. Dalam tataran praktis, supervisi dilakukan untuk:
1) Menginternalisasikan tujuan pendidikan yang diselenggarakan;
2) Mengintroduksi permasalah-permasalahan yang berkaitan dengan siswa;
3) Peningkatan etos, produktivitas, efektivitas dan efisiensi kerja;
4) Peningkatan profesionalisme; dan
5) Demokratisasi

Kelima hal diatas merupakan dasar operasional yang harus dipegang-teguh oleh seorang supervisor dalam melakukan tugasnya.
e. Bentuk Proses Supervisi
Ada limabentukprosessupervisi yangkitaketahui,yaitu:
1) Supervisi korektif, adalah suatu bentuk bimbingan dan bantuan yang berkaitan dengan upaya perbaikan (koreksi);
2) Supervisi Preventif, kegiatan bimbingan dan bantuan dalam rangka mengantisipasi suatu dampak (bisa kebijakan, ataupun kondisi) agar efektivitas pencapaian tujuan bisa dicapai.
3) Supervisi Konstruktif, adalah suatu kegiatan supervisi yang dimaksudkan untuk mengembangkan suatu operasionalisasi pencapaian tujuan pendidikan menjadi lebih baik dan lengkap.
4) Supervisi Kooperatif, adalah bentuk supervisi yang dilakukan bersama antara supervisor dengan guru. Satu sama lain memiliki insiatif untuk memperbaiki proses, meningkatkan kualitas, dan produktivitas.
5) Supervisi Kreatif, bentuk supervisi yang mencoba mengembangkan halyang betul-betul baru, inovatif.
e. Sasaran dan Komponen Supervisi
Supervisi dengan segala usahanya diarahkan pada pembinaan dan pengembangan aspek-aspek yang terdapat dalam situasi pembelajaran, sehingga akan tercipta suatu situasi yang dapat menunjang pencapaian tujuan pendidikan di sekolah, yang dimaksudkan dengan situasi pembelajaran ialah situasi dimana terjadi proses interaksi antara guru dan murid dalam usaha mencapai tujuan belajar yang telah ditentukan. Tujuan konkret supervisi tersebut menunjukkan tugas-tugas nyata yang harus dilakukan oleh kepala sekolah dalam rangka memperbaiki dan mengembangkan “setting” pembelajaran dalam segala aspeknya, yang berpengaruh kearah yang lebih baik, dan hal tersebut juga menjadi pedoman kegiatan bagi kepala sekolah sebagai seorang supervisor.

Menurut Alfonso (1991:45),
“They should be made aware of the criteria by which they will be assessed which should include: class management, relevant subject expertise, appropriate teaching skills, adequacy of lesson preparation, use of resources, understanding of the needs ofpupils and the ability to establish appropriate relationships with pupils and colleagues”.

Ada beberapa hal yang relevan untuk pengembangan profesional guru, seharusnya guru menyadari tentang kriteria yang akan dinilai atau diamati antara lain: pengelolaan kelas, relevansi ilmu, keahlian mengajar yang sesuai, ketepatan persiapan mengajar, penggunaan sumber-sumber sebagai informasi, pemahanan kebutuhan siswa dan kemampuan menciptakan hubungan yang tepat/sesuai antara siswa dan teman-temannya.

Gambar 1
Faktor-Faktor Pendukung Pembelajaran

Sumber:Dasar-dasarSupervisi,SuharsimiArikunto(2004: 32)

Melihat bagan tersebut, terdapat 6 (enam) faktor yang dapat menentukan hasil dari suatu proses pembelajaran, yaitu:
a) Siswa adalah bahan yang akan diolah dalam suatu proses pembelajaran dengan berbagai tujuan yaitu dikuasainya segenap pengetahuan, kemampuan, keterampilan dan lain-lain oleh siswa setelah proses pembelajaran selesai dilaksanakan.
b) Guru adalah pelaku yang berperan langsung dalam proses pembelajaran mengelola siswa, dengan kemampuan profesionalnya.
c) Kurikulum adalah komponen yang mengatur bagaimana guru harus melaksanakan proses pembelajaran dengan bahan, waktu, metode, dan lain-lain serta target yang akan dicapai.
d) Sarana-prasarana adalah berupa hal atau konsep yang membantu untuk memperjelas konsep, dengan sarana dan prasarana yang cukup, sehingga konsep dari guru akan lebih mudah diterima oleh siswa
e) Pengelolaan adalah tindakan dalam melakukan pengelolaan, pengaturan berbagai komponen yang ada, seperti: siswa, sarana yang dibutuhkan, metode atau cara-cara yang paling tepat yang akan dilakukan oleh guru sehingga tercapainya tujuan yang diharapkan.
f) Lingkungan adalah hal-hal yang ada di sekitar pelaksanaan pembelajaran, yang berpengaruh langsung atau tidak langsung terhadap pelaksanaan pembelajaran serta menentukan hasil pembelajaran.

Hal-hal tersebut diatas yang seharusnya menjadi objek atau sasaran supervisi, karena supervisi yang bertujuan menghasilkan mutu pembelajaran. Agar tidak terjadi campur aduk, menurut objek yang harus disupervisi, maka
Suharsimi Arikunto (2004: 133) berpendapat,

“supervisi dibagi menjadi 3 (tiga) yaitu: (a) supervisi akademik, yang menitikberatkan pengamatan supervisor pada masalah-masalah akademik, yaitu hal-hal yang langsung berada dalam lingkungan kegiatan pembelajaran pada waktu siswa sedang dalam proses mempelajari sesuatu; (b) supervisi administrasi, yang menitikberatkan pengamatan supervisor pada aspek-aspek administrasi yang berfungsi sebagai pendukung dan pelancar terlaksananya pembelajaran; (c) supervisi lembaga, yang menitikberatkan atau menyebarkan objek pengamatan supervisor pada aspek-aspek yang berada di sekolah, jika supervisi akademik dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran maka supervisi lembaga dimaksudkan untuk meningkatkan nama baik sekolah atau kinerja sekolah secara keseluruhan”.

g. Prinsip-Prinsip Supervisi

Piet Sahertian (2000: 20) menyatakan,

“masalah yang dihadapi dalam melaksanakan supervisi di lingkungan pendidikan adalah bagaimana cara mengubah pola pikir yang bersifat otokrat dan korektif menjadi sikap yang kreatif. Suatu sikap yang menciptakan situasi dan relasi dimana guru-guru merasa aman dan merasa diterima sebagai subyek yang dapat berkembang sendiri. Untuk itu supervisi harus dilaksanakan berdasarkan data, fakta yang objektif”.
Sugiyanto (1988: 2) berikut:

“(a) ilmiah, yang mencakup unsur: (1) sistimatis berarti dilaksanakan secara teratur, berencana dan kontinyu, (2) obyektif artinya data yang didapatkan berdasarkan pada observasi nyata bukan tafsiran pribadi, (3) menggunakan instrumen yang dapat memberikan informasi tentang proses belajar mengajar yang sebenarnya, (b) demokratis, (c) kooperatif, (d) konstruktif dan kreatif”.

Dari prinsip-prinsip supervisi dapat diketahui maknanya bahwa supervisi sebagai suatu kegiatan untuk dilakukan terencana, rutin, berkelanjutan yang dilakukan oleh kepala sekolah, yang menggunakan data dari hasil pergamatan atau observasi nyata menggunakan instrumen yang dapat memberikan informasi yang sebenarnya, sama sekali bukan hasil pelajaran pribadi supervisor. Hubungan antara supervisor bukan bersifat hirarchis yang memposisikan atasan dengan bawahan, namun hubungan kesejajaran, hubungan kemanusiaan yang akrab, saling percaya, yang di supervisi merasa ada sesuatu yang dibutuhkan yaitu bantuan maupun bimbingan yang akan diberikan oleh supervisor. Pembinaan yang diberikan supervisor sebagai sharing of Idea, untuk saling memberi masukan, sehingga supervisi suatu interaksi antara supervisor dan yang disupervisi untuk saling memberikan umpan balik. Langkah pembinaan yang dilakukan supervisor dipercaya mampu dilaksanakan oleh yang di supervisi dan yang di supervisi dengan tidak terpaksa menerima saran supervisor. Hubungan yang demokratis bukan otokratis diharapkan menumbuhkan kreativitas dari para guru.

h. Tehnik-Tehnik Supervisi

Supervisi merupakan salah satu usaha untuk membantu meningkatkan dan mengembangkan kemampuan guru dalam proses pengajaran. Agar supervisi dapat efektif, supervisor diharapkan memiliki pemahaman untuk memilih teknik-teknik supervisi yang cocok dengan tujuan yang diharapkan. Piet Sahertian (2000: 52) mengemukakan, “Ada beberapa teknik supervisi, antara lain: (a) teknik yang bersifat individual: (1) berkunjung kelas, (2) observasi kelas, (3) percakapan pribadi, (4) intervitasi, (5) penyeleksi berbagai sumber materi untuk mengajar, (6) menilai diri sendiri”.
Meskipun dalam rancangan secara teoritik sudah ada pihak yang diharapkan dapat melakukan supervisi terhadap guru yaitu kepala sekolah namun belum dapat terlaksana dengan efektif. Dalam kenyataannya beberapa tahun terakhir ini terdapat kepala sekolah yang belum dapat menjalankan kegiatan supervisi dengan baik bahkan semakin berkurang keefektifannya. Ini diakibatkan beban kepala sekolah terlalu berat. Selain kepala sekolah guru juga mempunyai beban yang berat. Ini diakibatkan juga karena banyaknya bidang studi yang diajarkan oleh guru disekolah sehingga tampak akan sangat sulit mempertemukan keduanya. Oleh karena itu perlu dicari alternative pemecahannya pelaksanaan supervisi dapat berjalan efektif dan efesian.

PENUTUP

Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan mempunyai peran yang sangat besar dalam mengembangkan mutu pendidikan sekolah. Kedudukan kepala sekolah dalam hal ini begitu pentingnya, sehingga ada anggapan tentang “bagaimana” suatu sekolah sangat tergantung pada “bagaimana” kepala sekolahnya. Keberhasilan sekolah adalah keberhasilan kepala sekolah. Kepala Sekolah akan berhasil apabila mereka memahami keberadaan sekolah sebagai oiganisasi yang kompleks dan unik, serta mampu melaksanakan peran kepala sekolah sebagai seorang yang diberi amanat dan tanggung jawab untuk memimpin sekolah.
Ditinjau dari struktur organisasi di sekolah, kedudukan guru berada di bawah kepala sekolah. Kedudukan guru adalah sentral, artinya guru menduduki tempat inti dari fungsi sekolah. Guru melakukan tugas mengajar, mendidik, melatih dan membimbing. Kepala sekolah dalam upaya untuk memberdayakan guru, harus mampu menolong para guru dan staf administrasi untuk mencapai tujuan bersama yang telah ditetapkan, memberi kesempatan untuk mengemukakan gagasan, membangkitkan semangat kerja yang tinggi, menciptakan suasana kerja yang menyenangkan, aman dan penuh semangat.
Bantuan terhadap guru dalam melaksanakan tugas-tugas tersebut, dapat dilakukan melalui pelaksanaan supervisi pendidikan. Supervisi pendidikan memberikan tekanan pada proses pembentukan dan pengembangan kemampuan profesional guru, yang dimulai dengan mengadakan perbaikan dalam cara mengajar guru di kelas, dengan cara ini diharapkan siswa dapat belajar dengan baik, sehingga tujuan pengajaran dapat dicapai secara maksimal.
Kepala sekolah sebagai supervisor, diharapkan dapat melaksanakan tugasnya dengan melakukan supervisi terhadap proses pembelajaran guru di kelas, dalam rangka meningkatkan kemampuan profesional guru yang tercermin pada kemampuan mengelola proses pembelajaran guru di kelas, yang meliputi: menguasai bahan pelajaran dalam pengertian menguasai bidang studi atau mata pelajaran yang dipegangnya, merencanakan program pembelajaran, melaksanakan dan memimpin/mengelola proses belajar, menilai kemajuan proses pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Alfonso, R.J.,Firth, G.R., & Neville, R.F. (1990). Instructional supervision: behavioral system .

Boston: Allyn and Bacon, Inc

Hartati Sukirman, dkk. 1999. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. FIP IKIP Yogyakarta.
Hendiyat Soetopo dan Wasty. 1998. Kepemimpinan Yang Efektif. Yogyakarta : Gadjah Mada

University.

Made Pidarta. 1997. Pemikiran tentang Supervisi Pendidikan. Surabaya : Sarana Press. Ngalim Purwanto. (2003). Administrasi dan supervisi pendidikan. Bandung: PT Remaja
Risdakarya.

Piet Sahertian. (2000). Konsep dasar dan tehnik supervisi pendidikan dalam rangka pengembangan sumber daya manusia. Jakarta: Rineka Cipta.
Suharsimi Arikunto. (2004). Dasar-Dasar Supervisi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

Udik Budi Wibowo. 1994. Profesionalisme Kepala Sekolah. FIP IKIP Yogyakarta

UU No. 20 Tahun 2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasioanal. Bandung : Citra

Umbara.
ARTIKEL
JUDUL :
PELAKSANAAN SUPERVISI PENDIDIKAN OLEHKEPALA SEKOLAH TERHADAP GURU

PENULIS:
Lia Yuliana, M.Pd

ALAMAT WEB
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/Artikel%20Supervisi%20PPM_0.pdf

CONTOH ARTIKEL SUPERVISI AKADEMIK
SUPERVISI AKADEMIK DALAM KAITANNYA DENGANPENJAMINAN MUTUPENDIDIKAN (Makalah disampaikan padaWorkshop Penjaminan Mutu) ParaKepalaSekolah SeKabupaten Karangasem
28 Oktober 2006
———————————————————————
Oleh:Nyoman Dantes
1. Pendahuluan
Dalam rangka pembaharuan sistem pendidikan nasional telah ditetapkan visi, misi dan strategi pembangunan pendidikan nasional. Visi pendidikan tersebut adalah terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Terkait dengan visi tersebut telah ditetapkan serangkaian prinsip untuk dijadikan landasan dalam pelaksanaan reformasi pendidikan.
Salah satu prinsip tersebut adalah bahwa pendidikan diselenggarakan sebagai proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat, di mana dalam proses tersebut harus ada pendidik yang memberikan keteladanan dan mampu membangun kemauan, serta mengembangkan potensi dan kreativitas peserta didik. Implikasi dari prinsip ini adalah pergeseran paradigma proses pendidikan, yaitu dari paradigma pengajaran ke paradigma pembelajaran.

Paradigma pengajaran yang telah berlangsung sejak lama lebih menitikberatkan peran pendidik dalam mentransfer pengetahuan kepada peserta didik. Paradigma tersebut bergeser pada paradigma pembelajaran yang memberikan peran lebih banyak kepada peserta didik untuk mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Untuk menyelenggarakan proses pendidikan yang didasarkan paradigma baru tersebut, diperlukan acuan dasar bagi setiap satuan pendidikan yang meliputi serangkaian kriteria dan kriteria minimal sebagai pedoman, yang saat ini dikenal dengan delapan standar mutu nasional pendidikan.

Dalam kaitan dengan hal di atas, tujuan standar mutu pendidikan ditetapkan adalah untuk menjamin mutu proses transpormasi, mutu instrumental dan mutu kelulusan, yang meliputi : (1) standar isi, (2) standar proses, (3) standar kompetensi lulusan, (4) standar pendidik dan tenaga kependidikan, (5) standar sarana dan prasarana, (6) standar pengelolaan, (7) standar pembiayaan, dan (8) standar penilaian pendidikan. (Bab IX UUSPN). Bila digambarkan dalam suatu diagram dapat diwujudkan sbb:

Standar Standar Standar Standar Standar Standar
Isi Tenaga Sar. &
Pras. Pembia-
yaan Penge-
loaan Penilaian

Peserta
didik

Standar Proses Pembelajaran

Standar Komp. Lulusan

Lulusan

Lingkungan

Gambar 1: Keterkaitan antara Aspek-Aspek Standar Mutu

2. Kajian Konsepsional mengenai Penjaminan mutu dalam kaitannya dengan
Supervisi Akademik

1.Hakekat Penjaminan Mutu

Bapak pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara, sejak tahun 1920an telah mengumandangkan pemikiran bahwa pendidikan pada dasarnya adalah memanusiakan manusia. Untuk itu suasana yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan adalah suasana yang berprinsip pada kekeluargaan, kebaikan hati, empati, cintakasih dan penghargaan terhadap masing-masing anggotanya, tidak ada pendidikan tanpa dasar cinta kasih. Dengan demikian pendidikan hendaknya membantu peserta didik untuk berkepribadian merdeka, sehat fisik, sehat mental, cerdas, serta menjadi anggota masyarakat yang berguna. Manusia merdeka adalah seseorang yang mampu berkembang secara utuh dan selaras dari segala aspek kemanusiannya dan mampu menghargai dan menghormati kemanusiaan setiap orang. Metode pendidikan yang paling tepat adalah sistem among yaitu metode pembelajaran yang berdasarkan pada asih, asah dan asuh. Sementara itu prinsip penyelenggaraan pendidikan perlu didasarkan pada “Ing ngarso sung tulodho, Ing madyo mangun karso, Tut wuri handayani”.
Tuntutan untuk melakukan pembaharuan yang sesuai dengan harkat peserta didik sebagai pribadi, serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, telah melahirkan suatu cabang disiplin keilmuan yang relatif baru dan semula dikenal sebagai didaktik & metodik menjadi teknologi pembelajaran. Teknologi pembelajaran didefinisikan sebagai

teori dan praktek dalam perancangan, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, dan evaluasi proses dan sumber untuk keperluan belajar. Dalam bidang teknologi pembelajaran telah dikembangkan sejumlah teori dan praktek pembelajaran yang bersifat preskriptif, misalnya teori pembelajaran elaborasi, pembelajaran pengorganisasian awal, algoheuristik, pembelajaran inkuiri, dan pemaparan komponen.

Mengingat bahwa pendidikan itu merupakan suatu sistem dengan komponen- komponen yang saling berkaitan, maka keseluruhan sistem harus sesuai dengan ketentuan yang diharapkan atau standar. Untuk itu masing-masing komponen dalam sistem harus pula sesuai dengan standar yang ditentukan bersama. Hal ini mesti dilakukan dalam kaitan terjadinya penjaminan mutu pendidikan itu sendiri, karena; penjaminan mutu adalah proses penetapan dan pemenuhan standar mutu pengelolaan secara konsisten dan berkelanjutan, sehingga konsumen, produsen, dan pihak lain yang berkepentingan memperoleh kepuasan. Bila dikaitkan dengan pengelolaan pendidikan, penjaminan mutu yang dimaksud adalah proses penetapan dan pemenuhan standar mutu pengelolaan pendidikan secara konsisten dan berkelanjutan, sehingga stakeholders memperoleh kepuasan. Untuk itu, dalam PP 19/2005 delapan standar tersebut di atas merupakan aspek-aspek yang harus memenuhi standar mutu dalam kaitan dengan penjaminan mutu suatu lembaga.

Sehubungan dengan kerangka konsep di atas, pada awal perkembangan pendidikan, masyarakatlah yang lebih berperan dalam menentukan standar mutu tersebut.– masyarakat menentukan apakah lulusan pendidikannya bermutu dengan memberikan tugas dan penghargaan kepada mereka. Dalam perkembangan selanjutnya dengan meluasnya penyelenggaraan pendidikan formal pemerintah lebih berperan dalam menentukan standar mutu tersebut. Dalam kaitannya dengan itu, konsep penjaminan mutu dapat ditinjau dari dua aspek yaitu : (1) aspek deduktif ; dimana lembaga pendidikan/sekolah mampu menetapkan dan mewujudkan visinya melalui pelaksanaan misinya, dan (2) aspek induktif; dimana lembaga pendidikan/sekolah, mampu memenuhi kebutuhan stakeholders (kebutuhan kemasyarakat/societal needs, kebutuhan dunia kerja/industrial needs, kebutuhan profesional/profesional needs). Konsep di atas dapat
divisualisasi dalam gambar berikut.

MUTU

PENJAMIN MUTU (Eksternal) BAN/Lembaga
lain

PENJAMIN MUTU (Internal) PT Ybs

3. Dasar Formal Supervisi Akademik

Dalam konstalasi antar delapan standar yang digambarkan pada pendahuluan, terlihat bahwa standar proses adalah merupakan suatu variabel yang sangat dipedulikan untuk dapat menghasilkan output yang memiliki kualitas kompetitif. Kualitas output tersebut sangat dipengaruhi oleh kualitas instrumental dan lingkungan. Maka dari itu sangat diperlukan terjadinya suatu proses pendidikan/pembelajaran yng optimal. Untuk menterjadikan proses pembelajaran tersebut optimal diperlukan berbagai usaha untuk perbaikan dan peningkatan, seperti penyiapan sarana, peningkatan kualitas pengelolaan, dan lain sebagainya, termasuk pelaksanaan supervisi terhadap pengelolaan proses pembelajaran.

Dalam kaitan dengan itu, dalam PP 19/2005 pasal 55 disebutkan bahwa: pengawasan satuan pendidikan meliputi pemantauan, supervisi, evaluasi pelaporan, dan tindak lanjut hasil pengawasan. Sedangkan pasal 57 menyebutkan bahwa : supervisi meliputi supervisi manajerial dan akademik dilakukan secara teratur dan berkesinambungan oleh pengawas atau penilik satuan pendidikan dan kepala satuan pendidikan. Selanjutnya dalam penjelasan pasal 57 dinyatakan yang dimaksud supervisi akademik meliputi aspek-aspek pelaksanaan proses pembelajaran.

Dengan demikian jelas bahwa supervisi akademik bisa dilakukan oleh pengawas/penilik dan oleh kepala satuan pendidikan, dengan tujuan untuk perbaikan proses pembelajaran demi terjadinya optimalisasi peningkatan kualitas pembelajaran, yang pada gilirannya berdampat pada kualitas output. Bila dihubungkan dengan sisi akademik, supervisi seperti ini disebut juga dengan Supervisi Klinis (agar dirujuk tersendiri), yang telah terbukti berdampak signifikan pada kualitas pengelola proses pembelajaran.

4. Pengawasan Proses Pembelajaran

Pengawasan proses pembelajaran adalah salah satu bentuk penjaminan mutu yang dilakukan secara internal (sekolah) untuk memberikan layanan bagi terjadinya proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Sebagai bentuk pengawasan internal, pengawasan proses pembelajaran menjadi tanggungjawab Kepala Sekolah selaku supervisor pembelajaran, guru bersangkutan sebagai proses evaluasi dan refleksi diri, serta oleh sejawat (guru) sebagai bentuk kepedulian terhadap mutu pembelajaran bidang sejenis/serumpun. Pengawasan proses pembelajaran dilakukan pada aspek perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian proses pembelajaran, yang dilaksanakan pada awal, tengah, dan akhir semester.

Pengawasan proses pembelajaran dalam pelaksanaanya mencakup kegiatan Pemantauan dilakukan dalam kerangka pengumpulan data, supervisi dilakukan dalam upaya pembinaan profesional guru, evaluasi dilakukan untuk mengidentifikasi sejauhmana proses pembelajaran telah dilaksanakan berdasarkan rencana, pelaporan dilakukan sebagai bentuk penyampaian hasil evaluasi, dan tindak lanjut adalah program yang perlu dikembangkan sebagai implikasi dari hasil evaluasi. Prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam melakukan pengawasan/supervisi antara lain adalah, prinsip:

a. Tanggung jawab dan kewenangan
Pengawasan pembelajaran dilaksanakan sebagai bagian dari tanggung jawab
dan kewenangan Kepala Sekolah selaku supervisor pembelajaran, guru bersangkutan, dan sejawat guru sesuai dengan tanggung jawab dan kewenanangan masing-masing.

b. Berkelanjutan
Pengawasan pembelajaran dilaksanakan secara periodik dan terprogram
yang harus diikuti dengan kegiatan tindak lanjut.

c. Mendidik
Pengawasan pembelajaran dilaksanakan dalam fungsi pendidikan, ditujukan untuk perbaikan mutu pembelajaran dan terfokus pada aktivitas pembelajaran.

d. Pengembangan profesi
Pengawasan pembelajaran dilaksanakan dalam fungsi pengembangan
profesi guru selaku agen pembelajaran.

e. Kerjasama kemitraan
Pengawasan pembelajaran dilakukan dalam bentuk kerjasama kemitraan dengan mengedepankan proses sentuhan kemanusiaan (high touch) sehingga membangkitkan semangat kerja optimal bagi guru.

f. Demokrasi
Pengawaan pembelajaran dilaksanakan dalam suasana keterbukaan dan
kebersamaan.

Agar tujuan pengawasan mencapai sasaran, petugas yang melakukan pengawasan terhadap proses pembelajaran adalah yang memenuhi persyaratan sebagai berikut.

a. Memiliki pemahaman dan berpengalaman dalam melaksanakan proses pembelajaran yang sesuai dengan standar proses pembelajaran dalam rumpun matapelajaran tertentu.

b. Memiliki pemahaman dan kemampuan dalam melaksanakan seluruh rangkaian kegiatan pengawasan proses pembelajaran.

c. Memiliki kemampuan memotivasi diri dan orang lain untuk mencapai standar proses pembelajaran yang ditetapkan.

d. Mampu menunjukkan keteladanan dalam sikap dan perilaku yang dapat membantu guru untuk mencapai kinerja ke arah standar proses pembelajaran yang ditetapkan.

e. Mampu menunjukkan kinerja pembelajaran yang mengaplikasikan prinsip-prinsip sebagaimana ditetapkan dalam standar proses pembelajaran.

Pengawasan proses pembelajaran sebagai bentuk penjaminan mutu pembelajaran, dilakukan dengan mekanisme sebagai berikut.

a. Pemantauan

1) Kegiatan pembelajaran yang perlu dipantau adalah perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, dan penilaian hasil pembelajaran sesuai dengan ketentuan minimal atau standar yang ditetapkan untuk masing-masing kegiatan pembelajaran dimaksudkan.

2) Kegiatan pemantauan diselenggarakan dengan menggunakan teknik pengamatan, pencatatan, perekaman, wawancara, diskusi kelompok terfokus, kuesioner dan teknik pengumpulan data lain yang relevan.

b. Supervisi

1) Kegiatan supervisi pembelajaran meliputi perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, dan penilaian hasil pembelajaran sesuai dengan ketentuan minimal atau standar yang ditetapkan untuk masing-masing kegiatan pembelajaran.

2) Supervisi pembelajaran diselenggarakan dengan menggunakan teknik pemberian contoh, saran, nasehat, dan diskusi secara perorangan, kelompok, atau klasikal kepada guru melalui media lisan, tulisan, dan atau audio visual.

c. Evaluasi

1) Evaluasi pembelajaran untuk menentukan kualitas pembelajaran secara keseluruhan, mencakup kegiatan (1) perencanaan proses pembelajaran, (2) pelaksanaan proses pembelajaran, dan (3) penilaian hasil pembelajaran sesuai dengan ketentuan minimal atau standar yang ditetapkan untuk masing-masing kegiatan pembelajaran.

2) Evaluasi proses pembelajaran diselenggarakan dengan cara:

a) membandingkan data yang diperoleh berkaitan dengan proses pembelajaran dengan ketentuan minimal atau standar yang ditetapkan untuk masing-masing kegiatan pembelajaran,

b) mengidentifikasi kekuatan kinerja yang dapat ditunjukkan oleh guru dalam proses pembelajaran,

c) mengidentifikasi kondisi, kemampuan, serta suasana yang belum terlaksana oleh guru dalam proses pembelajaran.

3) Evaluasi proses pembelajaran dapat ditujukan kepada perorangan dan atau kelompok dengan memfokuskan pada keseluruhan kinerja guru dalam proses pembelajaran.

d. Pelaporan

Hasil kegiatan pemantauan, supervisi, dan evaluasi terhadap masing-masing kegiatan proses pembelajaran dilaporkan oleh pelaksana pengawasan kepada pihak-pihak yang berkepentingan untuk ditindaklanjuti.

e. Tindak lanjut

1) Tindak lanjut dilakukan sebagai implikasi dari hasil pemantauan, supervisi, dan evaluasi baik yang berkenaan dengan perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, maupun penilaian hasil pembelajaran.

2) Bentuk program tindak lanjut yang dapat dilakukan oleh pihak terkait berkaitan dengan hasil laporan pengawasan antara lain adalah:

a) pemberian penguatan dan penghargaan terhadap guru yang telah memenuhi standar,

b) pemberian teguran yang bersifat mendidik terhadap guru yang belum memenuhi standar,

c) pemberian latihan atau kesempatan untuk mengikuti pelatihan/
penataran lebih lanjut,

5. Penutup

Demikianlah beberapa pokok pikiran yang disampaikan dalam diskusi ini, semoga dapat menstimulasin peserta untuk lebih lanjut memikirkan kondisi pendidikan kita, dan membuat kreasi-kreasi inovatif demi peningkatan kualitas sumber daya bangsa dimasa depan.

JUDUL
SUPERVISI AKADEMIK DALAM KAITANNYA DENGAN PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN (Makalah disampaikan pada Workshop Penjaminan Mutu) Para Kepala Sekolah Se Kabupaten Karangasem 28 Oktober 2006

PENULIS
Nyoman Dantes

ALAMAT WEB
http://www.undiksha.ac.id/e-learning/staff/images/img_info/4/lt_14-89.pdf

Aside | Posted on by | Leave a comment

PELAKSANAAN SUPERVISI PENDIDIKAN (UMUM) DISEKOLAH

PELAKSANAAN SUPERVISI PENDIDIKAN (UMUM) DISEKOLAH

 

Dewi Fujianah

Nim 101714203

 

Program Studi Manajemen Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya

Abstrak

Di dalam manajemen pengelolaan sebuah sekolah tentunya dibutuhkan suatu pengawasan untuk dapat mengetahui dan dapat mengevaluasi segala kekurangan-kekurangan yang ada disekolah. Kepengawasan tersebut dapat dilakukann oleh kepala sekolah, penilik atau pengawas pusat. Yang mana dari masing-masing memiliki fungsi yang hampir sama, namun jika untuk menilai keseluruhan dari mulai akademis, kelembagaan dan administrasi seolah maka dibutuhkan pengawas dari lembaga tertinggi yang nantinya akan ditunjuk secara langsung oleh dinas pendidkan untuk dapat ke sekolah, untuk melakukan penilaain dan untuk melakukan pengawasan dan orang yang mengawasi ini biasanya disebut dengan supervisor. Penilaian dan pengawasan yang dilakukan didasarkan pada kaidah-kaidah tugas dan proses bagaimana kepengawasan tersebut berjalan. Selama melakukan pengawasan dan penilaian supervisor dapat didampingi oleh kepala sekolah ataupun dapat sendiri. Sistem dari kepengawasan in ada bermacam-macam ada yang kunjungan secara tiba-tiba yaitu tanpa pemberitahuan dan ada kunjungan dengan pemberitahuan. Yang mana semua memiliki tujuan dan maksud tertentu. Untuk kunjungan yang tiba-tiba disni untuk melihat kesiapan dan aktifitas  sekolah sehari-harinya sedangkan untuk yang kunjungan dengan pemberitahuan biasanya dilakukan ketika terdapat sebuah masalah disekolah tersebut dan supervisor disini sebagai penengah untuk membantu penyelesainnya. Sehingga supervisor tidak boleh bersifat menghakimi dengan seksama.

Kata Kunci: Supervisi Pendidikan, Pelaksanaan Supervisi Pendidikan

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan suatu sistem kerja yang saling terkait antara komponen yang satu dengan lainnya. Upaya untuk melaksanakan pencapaiannya yakni mencapai tujuan pendidikan yang dikehendaki. Hal tersebut harus di ikuti dengan prinsip-prinsip yang telah dikembangkan serta teruji kebenarannya. Dalam peningkatan mutu dan relevansi pendidikan adalah tantangan yang paling penting dalam pembangunan pendidikan. Dalam pengelolaan dan penataan manajemen pendidikan, tantangan yang dihadapi adalah bagaimana melakukan pembaharuan organisasi dan manajemen pendidikan dalam rangka efisiensi dan efektifitas, serta otonomi pengelolaan pendidikan. Dalam pengelolaan tersebut yang secara langsung maupun tidak langsung dilakukan oleh seseorang yang saling tergabung didalam lingkungan organisasi tersebut, terkadang disini banyak yang tidak menyadari akan tugas dan fungsinya. Dalam kondisi atau keadaan seperti ini tentunya dibutuhkan suatu perubahan agar dapat mewujudkan tujuan yang diinginkan. Dalam melakukan proses perubahan sikap dari manusia tersebut yang secara langsung dipengaruhi oleh manusia lain itu sebenarnya memerlukan suatu pengkajian yang cermat dalam pengajar dan pendidikan yang secara langsung terkait erat dengan kondisi lingkungan sekaligus pengaruh dari figur kepala sekolah yang menjadi atasannya.

Didalam mencapai suatu tujuan tentunya dibutuhkan pula suatu pengawasan yang tujuannya yaitu untuk mencapai suatu ketercapaiaan target melalui evaluasi kinerja bersama. Orang yang bagian pengawasan ini berada dalam tingkatan tertinggi dan memilki keahlian khusus yang di tunjuk secara langsung untuk datang ke sekolah. sebutan untuk orang pengawas tersebut yaitu supervisor yang berasal dari Dinas Pendidikan setempat, yang fungsinya yaitu untuk mengawasi dan menilai sekolah tersebut seperti apa, baik kondisi guru, staf ataupun yang lainnya, yang biasanya didampingi oleh kepala sekolah. dengan adanya pengawasan seperti ini dapat digunakan sebagai evaluasi diri sekolah untuk dapat melihat kekurangan-kekurangan apa saja yang telah terjadi atau yang ada di sekolah.

Supervisi pendidikan merupakan disiplin ilmu yang memfokuskan diri pada pengkajian peningkatan situasi belajar mengajar, memberdayakan guru dan mempertinggi kualitas mengajar. Supervisi pendidikan ini menaungi pengawasan semuanya baik dari segi supervisi akademik, supervisi administrasi ataupun supervisi lembaga. Supervisi di era sekarang ini sangat dibutuhkan keberadaannya karena merupakan jaminan mutu (QA), sebagai pendorong mutu untuk sekolah, sebagai transparasi bagi siswa dan orang tua atau masyarakat, dapat mendorong terjadinya proses perbaikan mutu internal secara berkelanjutan, serta menjadi akuntabilitas pendidikan kepada masyarakat. Dan ketika supervisor sudah terjun ke lapangan untuk mengawasi dan mengamati kemudian diberikan feedback. Ini merupakan bentuk tindak lanjut yang diberikan oleh supervisor kepada orang atau pihak yang disupervisi. Disini diharapkan setelah adanya feedback pihak yang disupervisi dapat berubah untuk mengembangkan kemampuannya lebih baik dan lebih sempurna kembali.

ISI

  1. Konsep Dasar Supervisi Pendidikan
  2. Pengertian Supervisi Pendidikan

Menurut N.A. Ametembun dkk Supervisi Pendidikan  adalah pembinaan yang berupa bimbingan atau tuntutan ke arah perbaikan Situasi pada umumnya dan peningkatan mutu  mengajar dan belajar pada khusunya. Secara etimologis, supervisi menurut S. Wajowasito dan W.J.S Poerwadarminta yang dikutip oleh Ametembun (1993:1) : “Supervisi dialih bahasakan dari perkataan inggris “Supervision” artinya pengawasan. Pengertian supervisi secara etimologis masih menurut Ametembun (1993:2), menyebutkan bahwa dilihat dari bentuk perkataannya, supervisi terdiri dari dua buah kata super + vision : Super = atas, lebih, Vision = lihat, tilik, awasi. Makna yang terkandung dari pengertian tersebut, bahwa seorang supervisor mempunyai kedudukan atau posisi lebih dari orang yang disupervisi, tugasnya adalah melihat, menilik atau mengawasi orang-orang yang disupervisi.

Para ahli dalam bidang administrasi pendidikan memberikan kesepakatan bahwa supervisi pendidikan merupakan disiplin ilmu yang memfokuskan diri pada pengkajian peningkatan situasi belajar-mengajar, seperti yang diungkapkan oleh ( Gregorio, 1966, Glickman Carl D, 1990, Sergiovanni, 1993 dan Gregg Miller, 2003). Rifa’i (1992: 20) merumuskan istilah supervisi merupakan pengawasan profesional, sebab hal ini disamping bersifat lebih spesifik juga melakukan pengamatan terhadap pengawasan akademik yang mendasarkan pada kemampuan ilmiah, dan pendekatannya pun bukan lagi pengawasan manajemen biasa yang bersifat human, tetapi lebih bersifat menuntut kemampuan profesional yang demokratis dan humanistik oleh para pengawas pendidikan.

Dari beberapa pengertian diatas dapat di indikasikan bahwa supervisi pendidikan adalah sebuah tugas profesional yang dilaksanakan oleh seorang ahli yang telah di tunjuk dari lembaga tertinggi, yang berfungsi untuk emngawasi dan menilai kinerja berdasarkan kaidah-kaidah perngawasan yang ada. Dari kegiatan supervisi ini diharapkan dapat mengembangkan dan dapat memperbaiki kualitas untuk pihak-pihak yang bermasalah didalam aktifitasnya.

  1. Pinsip supervisi pendidikan
    1. Prinsip Fundamental berlandaskan pada nilai-nilai luhur Pancasila dan Agama
    2. Prinsip Praktis:

a)      Prinsip Negatif yang harus dihindari:

1)   Supervisi tidak boleh bersifat mendesak (otoriter)

2)   Supervisi tidak boleh didasarkan atas kekuasaan

3)   Supervisi tidak boleh lepas dari tujuan pendidikan dan pengajaran

4)   Supervisi hendaknya tidak hanya menilai hal-hal yang nampak terlihat

5)   Supervisi tidak mencari kelemahan/kekurangan/ kesalahan

6)   Supervisi jangan terlalu berharap cepat mengharapkan hasil atau perubahan

b)      Prinsip-Prinsip Positif:

1)      Supervisi bersifat konstruktif dan kreatif

2)      Supervisi didasarkan kepada sumber-sumber kolektif dari kelompok tidak hanya dari supervisor sendiri.

Supervisor Yang Baik:

1)      Mempergunakan sumber-sumber dan usaha-usaha dari kelompok

2)      Bekerja di dalam dan bersama-sama dengan kelompoknya

3)      Membina guru-guru dan siswa menjadi orang-orang yang terdidik

4)      Bekerja dengan (within) dan bersama-sama dengan

5)      Kelompok rekannya, membina diri sendiri dan rekannya untuk bekerja dengan baik. Supervisi dilandasi oleh hubungan profesional bukan hubungan pribadi

6)      Supervisi hendaklah dapat mengembangkan kesanggupan para guru dan karyawan sehingga menjadi kekuatan sekolah

7)      Supervisi hendaklah memperhatikan kesejahteraan para guru, karyawan dan hubungan baik diantara mereka

8)      Supervisi hendaklah progresif, dilaksanakan bertahap tapi penuh ketekunan

9)      Supervisi hendaklah dimulai dengan keadaan dan kenyataan yang sebenarnya

10)  Supervisi hendaklah selalu memperhitungkan kesanggupan dan sikap-sikap orang yang disupervisi, bahkan juga prasangkaprasangka mereka

11)  Supervisi hendaklah sederhana dan informal dalam pelaksanaannya

12)  Supervisi hendaklah obyektif dan sanggup mengevaluasi diri sendiri

  1. Program Supervisi Pendidikan

1)      Kemampuan menjabarkan kurikulum ke dalam program cawu

2)      Kemampuan menyusun perencanaan mengajar (satpel)

3)      Kemampuan dalam melaksanakan KBM dengan baik

4)      Kemampuan menilai proses dan hasil belajar

5)      Kemampuan untuk memberi umpan balik secara teratur dan terus menerus

6)      Kemampuan membuat dan menggunakan alat bantu mengajar secara sederhana

7)      Kemampuan dalam menggunakan/ memanfaatkan lingkungan sebagai media dan sumber belajar

8)      Kemampuan membimbing dan melayani murid yang mengalami kesulitan dalam belajar

9)      Kemampuan mengatur waktu dan menggunakannya secara efektif dan efisien untuk menyelesaikan programprogram belajar murid

10)  Kemampuan memberikan pelajaran dengan memperhatikan perbedaan individual diantara para siswa

11)  Kemampuan mengelola KBM ko dan ekstra kurikuler serta kegiatan lainnya yang berkaitan dg belajar siswa

  1. Gaya Kepemimpinan Supervisor Pendidikan

1)   Supervisor yang Otokratis: “seorang supervisor yang menentukan sendiri segala sesuatunya untuk dan harus dilaksanakan oleh warga sekolah melalui proses pengawasan yang seksama.”

2)   Supervisor yang Demokratis: “seorang supervisor yang menyadari fungsinya untuk membina warga sekolah melalui proses pengambilan keputusan bersama melalui musyawarah dengan warga sekolah dalam mencapai tujuan pendidikan.

3)   Supervisor yang “Laissez faire”: “seorang supervisor yang memberikan kebebasan dan keleluasaan kepada orang-orang yang disupervisi untuk melakukan apa yang dianggapnya baik. Ditandai dengan sikapnya yang apatis, masabodoh, acuh tak acuh dan mempercayakan segala sesuatunya kepada warga sekolah untuk melakukannya.”

4)   Supervisor yang Psedo-demokratis: “seorang supervisor yang melakukan proses dengan cara demokratis tetapi pada kenyataannya ditentukan segala sesuatunya oleh sendiri. Sehingga hasil musyawarah diabaikan atau tidak berarti apa-apa pada warga sekolah.

  1. Kegiatan Supervisi Pendidikan

Supervisi pada dasarnya diarahkan pada tiga kegiatan, yakni: supervisi akademis, supervisi administrasi dan supervisi lembaga. Ketiga kegiatan besar tersebut masing-masing memiliki garapan serta wilayah tersendiri. Supervisi akademis sendiri dititik beratkan pada pengamatan supervisor tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan kegiatan akademis, diantaranya hal-hal yang langung berada dalam lingkungan kegiatan pembelajaran pada waktu siswa sedang dalam proses mempelajari sesuatu. Sedangkan supervisi administrasi menitik beratkan pada pengamatan supervisor pada aspek-aspek administrasi yang berfungsi sebagai pendukung dan pelancar terlaksananya pembelajaran dan administrasi lembaga sendiri diarahkan pada kegiatan dalam rangka menyebarkan objek pengamatan supervisor tentang aspek-aspek yang berada di seantero sekolah dan berperan dalam meningkatkan nama baik sekolah atau kinerja sekolah secara keseluruhan.

Sasaran pengawasan di lingkungan kelembagaan pendidikan selama ini menunjukkan kesan seolah-olah segi fisik material yang tampak merupakan saaran yang sangat penting, namun pengolahan dana, sistem kepegawaian, perlengkapan serta sistem informasi yang dipergunakan oleh lembaga nyaris merupakan sesuatu yang terabaikan. Supervisi kelembagaan menebarkan objek pengamatan supervisor pada aspek-aspek yang berada di lingkungan sekolah, artinya lebih bertumpu pada citra dan kualitas sekolah, sebab dapat dimaklumi bahwa sekolah yang memiliki popularitas akan menjadi lembaga pendidikan yang secara otomatis dapat menarik perhatian masyarakat yang pada gilirannya akan menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah dimaksud.

  1. Teknik Supervisi Pendidikan
    1. Teknik-teknik dalam Supervisi Pendidikan
      1. Teknik Supervisi yang bersifat kelompok

a)    Pertemuan orientasi bagui guru baru

b)   Rapat guru

c)    Studi kelompok antar guru

d)   Diskusi

e)    Teknik tukar pengalaman (Sharing)

  1. Teknik Individu dalam Supervisi

a)      Teknik kunjungan kelas

b)      Teknik observasi kelas

c)      Percakapan pribadi

d)     Intervisitasi (mengunjungi sekolah lain)

e)      Penyeleksian berbagai sumber materi untuk mengajar

f)       Menilai diri sendiri

  1. Cara Pelaksanaan Supervisi Pendidikan Disekolah

Secara singkat gambaran tentang berbagai cara pelaksanaan pembinaan dan pelayanan profesional kepada guru adalah sebagai berikut:

No.

Jenis Pelayanan/ Pembinaan

Teknik Pelaksanaan

Tujuan

Keuntungan

Hambatan/ Kelemahan

1. Kunjungan Kelas Observasi PBM di kelas oleh Penilik/Pengawas/Kepala sekolah Mengertahui cara guru melaksanakan PBM
  1. Dapat mengetahui kelebihan yang dapat dikembangkan
  2. Dapat mengetahui kelemahan untuk perbaikan
  3. Dapat memberikan koreksi/perbaikan sesuai kebutuhan
Guru merasa canggung & kurang bebas.
2. Pertemuan Pribadi Penilik/Kepala Sekolah bertatap muka dengan seorang guru Bantuan khusus Berdialog langsung lebih terarah Agak sulit menentukan waktu
3. Rapat Staf Kepala Sekolah/Penilik berhadapan dengan para guru Bantuan umum Bantuan diberikan kepada seluruh guru dalam satu kali pertemuan dan pertukaran pikiran secara umum Agak sulit menentukan dan cukup menyita waktu
4. Kunjungan Antar Kelas Guru dari salah satu kelas mengunjungi kelas lain dalam satu sekolah Mengetahui cara guru lain dalam KBM dan pengelolaan kelas
  1. Mengetahui guru lain dalam melaksanakan KBM dan pengelolaan kelas.
  2. Hal-hal yang baik dapat dijadikan contoh
  3. Hal-hal yang kurang baik dapat didiskusikan.
Mengganggu KBM kelas lain kelas sendiri ditinggalkan
5.

Kunjungan Sekolah

  1. Oleh Penilik/Pengawas tanpa pemberitahuan

Mengetahui keadaan sebenarnyaDapat memberikan bimbingan aktualDianggap kurang demokratis

  1. Dengan Pemberitahuan

Guru mengetahui maksud dan tujuan kunjunganKepala Sekolah/Guru dapat menunjukkan hasil usahanyaTidak mencerminkan keadaan sehari-hari

  1. Atas Undangan

Guru ingin diketahui keberhasilannyaDapat melayani kebutuhan khusus/setempat 6.Kunjungan Antar SekolahGuru dari sekolah lain dikunjungi oleh suatu sekolahMengetahui di sekolah lain melakukan KBM dan pengelolaan sekolahnya dan kelas

  1. Mengetahui bagaimana guru sekolah lain KBM dan mengelola sekolah.
  2. Hal-hal yang baik dapat dicontoh sedangkan hal-hal yang kurang baik didiskusikan.
    1. Mungkin mengganggu
    2. Sekolah/kelas sendiri ditinggalakn

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Menurut N.A. Ametembun dkk Supervisi Pendidikan  adalah pembinaan yang berupa bimbingan atau tuntutan ke arah perbaikan Situasi pada umumnya dan peningkatan mutu  mengajar dan belajar pada khusunya. Para ahli dalam bidang administrasi pendidikan memberikan kesepakatan bahwa supervisi pendidikan merupakan disiplin ilmu yang memfokuskan diri pada pengkajian peningkatan situasi belajar-mengajar, seperti yang diungkapkan oleh ( Gregorio, 1966, Glickman Carl D, 1990, Sergiovanni, 1993 dan Gregg Miller, 2003).

Dilihat dari pengertian supervisi pendidikan yaitu supervisor sebagai pengawas di sekolah harus dapat memberikan feedback berupa saran-saran dan solusi yang mendukung untuk perubahan dan perbaikan situasi yanga da disekolah. Pengawas pendidikan dapat dibantu oleh kepala sekolah untuk melakukan kunjungan kelas ataupun ketika melakukan penilaian. Supervisor disini tidak boleh bersifat menghakimi, disini supervisor menjadi patner untuk bersama-sama mebantu para tenaga pendidikan maupun non kependidikan untuk menyelesaikan segala masalah dan kesulitan-kesulitan yang dialami.

  1. Saran

Untuk supervisor-supervisor yang telah ditunjuk seharusnya melaksanakan tugasnya dengan baik dan sesuai dengan prosedur tidak ada unsur subyektifitas, atau unsur kesengajaan untuk menutup-nutupi kesalahan yang ada diskeolah. semuanya harus sesuai dengan kondisi dan situasi dari lingkungan sekolah berdasarkan penilaian atau pengawasan yang telah dilakukan.

DAFTAR RUJUKAN

Nurdin, Diding. Administrasi pendidikan supervisi pendidikan. (online), (http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._ADMINISTRASI_PENDIDIKAN/197108082001121-DIDING_NURDIN/SUPERVISI_PENDIDIKAN.pdf). Diakses 18 Mei 2013.

Aedi, Nur. Teknik supervisi. (online), (http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._ADMINISTRASI_PENDIDIKAN/197205282005011-NUR_AEDI/4-25/BAB_3_teknik_supervisi_%5BNur_Aedi%5D.pdf). Diakses 18 Mei 2013

Kurniady, Dedy Achmad. 2005. Pengelolaan pendidikan teori/supervisi pendidikan. (online), (http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._ADMINISTRASI_PENDIDIKAN/19710609200501-DEDY_ACHMAD_KURNIADY/Pengelolaan_Pendidikan_Teori/SUPERVISI_PENDIDIKAN.pdf). Diakses 18 Mei 2013.

Sutiman. 2011. Supervisi pendidikan. (online), (eprints.uny.ac.id/733/1/Supervisi___Pendidikan-sem-7.pdf). Diakses 18 Mei 2013.

Posted in PELAKSANAAN SUPERVISI PENDIDIKAN (UMUM) DISEKOLAH | Tagged , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

MOTIVASI KINERJA GURU MELALUI SUPERVISI KLINIS

MOTIVASI KINERJA GURU MELALUI SUPERVISI KLINIS

 

Dewi Fujianah

Nim 101714203

 

Program Studi Manajemen Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya

Abstrak

Perkembangan dalam dunia pendidikan yang selalu berubah dan standart kelulusan yang ditetapkan oleh pemerintah yang semakin tinggi berdampak pada pengelolaan proses pendidikan didalamnya. Melihat hal tersebut mengharuskan kepala sekolah yaitu sebagai pimpinan tertinggi lebih memahami dan selalu mengawasi sistem kerja yang terjadi disekolah. Sistem kerja yang memiliki pengaruh terbesar dalam sekolah yaitu ada pada proses pembelajaran didalam kelas, hal ini secara langsung melibatkan masing-masing guru bidang studi. Tuntutan yang harus dipenuhi dalam kemampuan dan profesional dalam kinerja sangat dibutuhkan untuk menunjang sebuah kesuksesan pengelolaan pembelajaran. Jika guru tidak dapat memenuhi tuntutan tersebut maka kepala sekolah sebagai pimpinan tertinggi membantu untuk mencari solusi dan menanyakan dengan melakukan pendekatan ataupun guru bisa datang kepada kepala sekolah dengan bercerita kesuitan-kesulitan apa saja yang telah di hadapi, agar kepala sekolah dapat dengan segera memberikan saran dan membantu untuk penyelesaiannya. Didalam pemberian saran ini dibutuhkan pula motivasi dari kepala sekolah agar guru dapat sadar dan percaya diri untu melaksanakan tugasnya didalam sekolah sehingga secara perlahan dapat melakukan perbaikan didalam dirinya dan memperbaiki kinerjanya.

Kata Kunci: Supervisi Klinis, Motivasi, Kinerja

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan suatu sistem kerja yang saling terkait antara komponen yang satu dengan lainnya. Yang mana di negara Indonesia ini memiliki berjuta-juta penduduk dari berbagai suku dan ras yang banyak mengalami pengangguran. Hal ini dikarenakan daya saing yang semakin tinggi dan lahan pekerjaan yang semakin rumit yang diakibatkan oleh tingginya tuntutan yang harus dipenuhi ketika didalam bekerja. Tuntutan tersebut biasanya berupa kualitas yang harus dimiliki oleh setiap pekerja. Berbicara mengenai kualitas tidak terlepas dari pengelolaan sistem yang ada di dunia pendidikan. Dalam pengelolaan tersebut khususnya disekolah secara langsung maupun tidak dipegang oleh pimpinan tertinggi dan dibantu oleh staf dibawahnya.

Pengelolaan sekolah yang baik menentukan proses pembelajaran dan proses pengajaran yang ada disekolah. Yang secara langsung proses pengajaran dan pembelajaran ini dipengaruhi oleh kinerja seorang guru di masing-masing bidang studi ketika mereka berada didalam kelas. Melihat fenomena diatas mengharuskan suatu perubahan untuk memenuhi sebuah kualitas khususnya dalam bidang pendidikan. perubahan tersebut dimulai dari hal terkecil yaitu perekrutan seorang guru untuk masuk sekolah. di dalam pengambilan pegawai utamanya guru harus benar-benar diperhatikan tingkat pendidikan dan kualitas mengelola kelas. Hal ini diperlukan karena faktanya sekarang rendahnya mutu pendidikan di pengaruhi dari kinerja guru yang kurang baik sehingga proses pembelajaran terhambat dan pengelolaan kelas tidak kondusif akibatnya materi tidak tersampaikan dengan tepat kepada para peserta didik yang berada di dalam kelas. Disni guru seharusnya menyadari akan kemampuan yang dimilikinya. yang bisa merasakan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya yaitu hanya dari diri guru itu sendiri, karena yang diharapkan dari seorang guru ketika mengajar dikelas yaitu ia dapat menguasai dan memahami materi yang akan disampaikan dan dapat melakukan pengelolaan kelas dengan baik. Tuntutan yang harus dipenuhi oleh seorang guru tentunya tidak mudah bagi seorang guru dapat melakukan semua hal tersebut, dibutuhkan suatu cara atau teknik yang tepat yang harus dikuasai oleh seorang guru untuk menunjang aktifitasnya ketika melakukan pengajaran di sekolah maupun di luar sekolah.

Menurut Hasibuan (1999:126) menjelaskan kinerja mempunyai hubungan yang erat dengan masalah produktivitas, karena merupakan indikator dalam menentukan bagaimana usaha untuk mencapai tingkat produktivitas yang tinggi dalam suatu organisasi. Hasibuan menyatakan bahwa produktivitas adalah perbandingan antara keluaran (output) dengan masukan (input). Menurut Mitchell (Sedarmayanti, 2001:51), menyatakan bahwa kinerja meliputi beberapa aspek yaitu : 1) Quality of Work, 2) Promptness, 3) Initiative, 4) capability, dan 5) communication yang dijadikan ukuran dalam mengadakan pengkajian tingkat kinerja seseorang.  Sesuai dengan  aspek kinerja dari seorang guru tersebut diatas terdapat banyak  penyimpangan yang telah terjadi diantaranya yaitu banyak guru yang belum mempunyai kelima aspek yaitu quality of work (kualitas kerja), promptness    ( ketepatan), initiative (inisiatif), capability (kemampuan) dan communication (komunikasi). Untuk dapat melengkapi semua aspek kinerja tersebut dibutuhkan pula sebuah motivasi untuk menunjang rasa percaya diri dari guru tersebut demi mencapai sebuah kemampuan dan kualitas kinerja dari guru. Yang mana motivasi disini menurut Ernest L McConnick (Mangkunegara, 2002:94) yaitu “motivasi kerja didefinisikan sebagai kondisi yang berpengaruh membangkitkan, mengarahkan dan memelihara perilaku yang berhubungan dengan lingkungan kerja”.

Dan motivasi tersebut dapat diberikan oleh pimpinan tertinggi disekolah yaitu kepala sekolah. proses pemberian arahan dan masukkan seperti inilah yang biasanya dikenal dengan sebutan supervisi klinis. Disini guru dapat bercerita atau kepala sekolah yang aktif untuk mengetahui apa saja permasalahn yang dihadapi oleh guru seputar kinerja yang dilaksanakanya.dan kepala sekolah memberikan saran dan masukan mengenai permasalahan yang terjadi serta jika megenai permasalahn dikelas kepala sekolah dapat ikut mendampingi selama proses  pembelajaran berlangsung dan disana dapat dilihat kekurangan-kekurangan apa saja yang perlu di perbaiki. Semua ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas, kemampuan dan keprofseionalan dari seorang guru untuk memperbaiki kinerjanya.  Supervisi klinis mempunyai arti Suatu proses bimbingan yang bertujuan membantu pengembangan kemampuan professional guru/calon guru, khususnya dalam penampilan mengajarnya, berdasarkan hasil observasi dan analisis data secara teliti dan obyektif. Pelaksana dari sepervisi klinis dinamakan Supervisor. Subjek dari supervisi klinis adalah kepala sekolah, sebagai kewajiban dari kepala sekolah adalah melakukan pendampingan dan pembinaan terhadap para tenaga pendidikan.

Menurut Danim dan Khairil (2010: 78) mengatakan bahwa Pelaksanaan supervisi klinis yaitu untuk meningkatkan kemampuan profesional guru melalui perbaikan kinerja dari gurunya, yang mana pelaksanaan supervisi klinis dilakukan melalui tahapan-tahapan 1). Praobservasi, hal ini berisi pembicaraan dan kesepakatan antara supervisor dengan guru mengenai apa permasalahan yang dihadapi oleh guru atau apa yang akan diamati dan diperbaiki dari pengajaran yang dilakukan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana permasalahan yang dialami guru selama melakuakn pengajaran didalam kelas yang nantinya bisa dilakukan perbaikan untuk menambah atau memperbaiki metode pengajaran yang dilakukan dikelas. 2). Observasi, yaitu supervisor mengamati guru dalam mengajar sesuai dengan fokus yang telah disepakati. Disini supervisor yaitu kepala sekolah mengikuti langsung jalannya pembelajaran dikelas yang dilakukan oleh guru namun dengan membawa instrumen supervisi yang telah disepakati bersama. 3). Analisis permasalahan yang dilakukan secara bersama oleh supervisor dengan guru terhadap hasil pengamatan. Setelah melakukan observasi dikelas maka kepala sekolah memberikan masukan dan saran mengenai permasalahan yang dihadapi dengan hasil sesudah dilakukannya supervisi apakah masih ada kekurangan dalam pengajaran dan pengelolaan kelasnya. Jika masih terdapat kekurangan maka selanjutnya 4). Perumusan langkah-langkah perbaikan dan pembuatan rencana untuk perbaikan. Tahapan yang terakhir ini yaitu memberikan alternatif penyelesaian yang akan dilakukan untuk pengajaran selanjutnya.

Semua hal tersebut dapat dilakukan oleh seorang kepala sekolah di dalam mencapai suatu tujuan. Dan untuk mencapai suatu tujuan tersebut tentunya dibutuhkan pula suatu pengawasan yang tujuannya yaitu untuk mencapai suatu ketercapaiaan target melalui evaluasi kinerja bersama.

 

ISI

  1. Konsep Dasar Supervisi Klinis
  2. Perkembangan Supervisi Klinis

Pada awalnya supervisi klinis diperkenalkan dan dikembangkan Morris L. Cogan, dan Robert Goldhammer dari Universitas Harvard School of Education pada akhir tahun 1950. Ada dua asumsi yang mendasari supervisi klinis sebagaimana dijelaskan oleh sergiovanmi yaitu sebagai berikut: (a) pengajaran merupakan aktivitas yang sangat kompleks yang memerlukan pengamatan dan analisis secara hati-hati. Melalui pengamatan dan analisis ini, supervisor pengajaran akan mudah mengembangkan kemampuan guru dalam mengelola proses belajar-mengajar dikelas. (b) guru-guru yang ingin mengembangkan profesionalismenya lebih menghendaki cara yang kolegikal daripada cara autoritarian. (Bafadal, 1992:90).

Ada beberapa faktor yang ikut mendorong perkembangan supervisi klinis, salah satu faktornya adalah supervisi umum. Pada dasarnya supervisi umum dalam prakteknya dilaksanakan seperti evaluasi, sehingga supervisi ini sering tidak disukai, bahkan cenderung ditolak, baik secara terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi. Hariwung (1989:221-224) mengemukakan ada beberapa praktik supervisi umum yang banyak tidak disukai oleh para guru, yaitu:

1)      Pemberian supervisi umum didasarkan pada kebutuhan/keinginan para supervisor, oleh karena itu guru/calon guru kurang merasakan keuntungannya.

2)      Dalam supervisi umum sasaran pengamatan supervisor terlalu umum dan luas, sehingga pemberian umpan balik terlalu sukar dan sering tidak terarah.

3)      Pemberian upan balik sering menjadi pertemuan pengarahan, bahkan instruksi-instruksi dan tidak melibatkan guru/calon guru dalam menganalisis dirinya serta tidak memberikan cara-cara untuk memperbaiki/mengembangkan dirinya.

Dari pemaparan diatas, dapat diketahui bahwasannya supervisi mengalami perkembangan, hal ini dikarenakan adanya kebutuhan guru terhadap supervisi yang lebih demokratis dan lebih mampu membantu guru untuk meningkatkan kemampuan/keterampilan guru dalam proses belajar mengajar dikelas. Untuk lebih jelasnya perkembangan dari supervisi umum menjadi supervisi klinis dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 2.1

Aspek perkembangan supervisi umum menjadi supervisi klinis

No Aspek Perkembangan Supervisi Umum Supervisi Klinis
1 Prakarsa dam Tanggung  Jawab Terutama oleh Supervisor Supervisor dan Guru
2 Hubungan Supervisor-Guru Realisasi atasan-bawahan Realisasi kolegikal yang sederajat dan interaktif
3 Sifat Supervisi Cenderung direktif/otokratif Bantuan yang demokratis
4 Sasaran Supervisi Sesuai keinginan Supervisor Sesuai kebutuhan guru dan dikaji secara bersama supervisor
5 Tujuan Supervisi Cenderung evaluatif Bimbingan yang analitik dan deskriptif
6 Balikan Samar-samar atau kesimpulan supervisor Dengan analisis dan interpretasi bersama antara supervisor dengan guru

Sumber : http://jssukardjo.staff.fkip.uns.ac.id/2009/04/08/pengertian-prinsip-dan-prosedur-supervisi-klinis

  1. Landasan Supervisi Klinis

Terdapat beberapa landasan yuridis yang mendasari pentingnya kegiatan supervisi klinis pada tingkat satuan pendidikan. Landasan yuridis tersebut diantaranya dijelaskan sebagai berikut:

  1. Landasan Yuridis

1)        Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional : Bahwa sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan.

2)        Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen : Bahwa untuk menjamin perluasan dan pemerataan akses, peningkatan mutu dan relevansi, serta tata pemerintahan yang baik dan akuntabilitas pendidikan yang mampu menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global perlu dilakukan pemberdayaan dan peningkatan mutu guru dan dosen secara terencana, terarah, dan berkesinambungan.

3)        Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2007 Tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah : Pasal 1 (1) untuk diangkat sebagai kepala sekolah/madrasah, seseorang wajib memenuhi standar kepala sekolah/madrasah yang berlaku nasional. (2) Standar kepala sekolah/madrasah sebagimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini. Yaitu salah satunya kompetensi supervisi yang meliputi : 1. Merencanakan rogram supervisi pengajaran dalam rangka peningkatan profesinalisme guru, 2. Melaksanakan supervisi pengajaran terhadap guru dengan menggunakan pendekatan dan teknik supervisi yang tepat, serta 3. Menindaklanjuti hasil supervisi pengajaran terhadap guru dalam rangka peningkatan profesionalisme guru.

4)        Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik indonesia Nomor 16 Tahun 2007 Tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru : pasal 1 (1) setiap guru wajib memenuhi standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru yang berlaku secara nasional. (2) Standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru sebagaimana dimaksud ayat (1) tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini. Pasal 2 ketentuan mengenai guru dalam jabatan yang belum memenuhi kualifikasi akademik diploma empat (D-IV) aau sarjana (S1) akan diatur dengan Peraturan Menteri sendiri

  1. Pengertian Supervisi Klinis

Menurut Ngalim Purwanto, supervisi adalah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif. Sutisna (Arikunto, 2004:11) Mengatakan Definisi supervisi adalah segala sesuatu dari pejabat sekolah yang diangkat yang diarahkan kepada penyediaan kepemimpinan bagi para guru dan tenaga pendidikan lain dalam perbaikan pengajaran, melihat stimulasi pertumbuhan professional dan perkembangan dari para guru, seleksi dan revisi tujuan-tujuan pendidikan,bahan pengajaran, dan metode-metode mengajar, dan evaluasi pengajaran.

Wiles (Arikunto, 2004:11) Supervisi adalah bantuan dalam pengembangan situasi belajar-mengajar agar memperoleh kondisi yang lebih baik. Supervisi dapat diartikan sebagai layanan professional, layanan professional tersebut berbentuk pemberian bantuan kepada personil sekolah dalam meningkatkan kemampuannya sehingga lebih mampu mempertahankan dan melakukan perubahan penyelenggaraan sekolah dalam rangka meningkatkan pencapaian tujuan sekolah.

Jadi dari beberapa pengertian diatas mengindikasikan bahawa supervisi klinis adalah suatu bimbingan yang dilakukan oleh kepala sekolah terhadap guru untuk membantu para guru menyelesaikan permasalahan atau kesulitan yang sedang dihadapinya demi mencapai suatu perubahan untuk mencapai sebuah kualitas yang telah ditentukan.

  1. Tujuan Supervisi Klinis
    1. Tujuan Umum

Secara umum Supervisi klinis bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan mengajar guru di kelas. Hubungan ini supervisi klinis merupakan kunci untuk meningkatkan kemampuan professional guru.

  1. Tujuan Khusus

Secara khusus Supervisi klinis bertujuan untuk:

1)      Menyediakan suatu balikan yang objektif dalam kegiatan mengajar yang dilakuakan guru dengan berfokus terhadap:

a)    Kesadaran dan kepercayaan diri dalam mengajar.

b)   Keterampilan-keterampilan dasar mengajar yang diperlukan.

2)      Mendiagnosis dan membantu memecahkan masalah-masalah pembelajaran.

3)      Membantu guru mengembangkan keterampilan dalam menggunakan strategi-strategi pembelajaran.

4)      Membantu guru mengembangkan diri secara terus menerus dalam karir dan profesi mereka secara mandiri.

Jadi dari tujuan diatas dapat diindikasikan bahwa untuk tujuan supervisi klinis yaitu untuk memperbaiki dan membantu para guru ketika mengalami kesulitan didalam kinerjanya demi mencapai suatu kinerja yang berkualitas.

  1. Prosedur Pelaksanaan Supervisi Klinis

Menurut sukirman (1998:89-90) supervisi klinis meliputi beberapa siklus, yaitu : pra observasi, observasi kelas, analisis hasil observasi, dan pembicaraan hasil observasi.

  1. Tahap pertemuan pendahuluan (pra observasi)

Kegiatan supervisor dan guru dalam tahap pertemuan pendahuluan adalah membicarakan rencana tentang keterampilan yang akan diobservasi dan dicatat. Tahap pertemuan pendahuluan memberikan kesempatan kepada guru dan supervisor untuk mengidentifikasi perhatian utama guru kemudian menterjemahkan ke dalam bentuk tingkah laku yang dapa diamati.

Pelaksanaan pertemuan pendahuluan juga membicarakan dan menentukan jenis data mengajar yang akan diobservasi dan dicatat selama pelajaran berlangsung. Pada tahapan ini komunikasi yang efektif dan terbuka sangat diperlukan guna mengikat supervisor dan guru didalam suasana kerja yang harmonis. Suwarna, dkk (2005:183) mengemukakan bahwa secara teknis diperlukan lima langka utama bagi terlaksananya pertemuan pendahuluan yang baik, yaitu:

1)   Menciptakan suasana intim dan terbuka antara supervisor dan guru/calon guru sebelum langkah-langkah selanjutnya dibicarakan.

2)   Membicarakan rencana pelajaran yang telah dibuat oleh guru yang mencakup tujuan, bahan, kegiatan belajar mengajar, serta alat evaluasinya.

3)   Mengidentifikasi komponen keterampilan (beserta indikatornya) yang akan dicapai oleh guru/calon guru dalam kegiatan mengajar/latihan praktek mengajar tersebut, misalnya guru/calon guru yang berlatih menguasai keterampilan bertanya.

4)   Mengembangkan atau memilih instrumen observasi yang akan digunakan, merekam data dalam penampilan guru/calon guru sesuai dengan persetujuan dan kesepakatan tentang keterampilan beserta indikatornya.

5)   Instrumen observasi yang dipilih atau yang akan dikembangkan, dibicarakan bersama antara guru dan supervisor.

  1. Tahap observasi kelas (kunjugan kelas)

Fungsi utama observer adalah “menangkap” apa yang terjadi selama pelajaran berlangsung secara lengkap, agar supervisor dan guru dapat dengan tepat mengingat kembali hal-hal yang terjadi dalam pembelajran sebelumnya. Adapun tujuan dari kunjungan kelas adalah agar analisis dapat dibuat seobjektif mungkin, dan ide pokok dalam observasi ini adalah mencakup apa yang terjadi selama pelajaran berlangsung sehingga dapat digunakan dalam analisis dan komentar.

Suwarna (2005:183) mengemukakan hal-hal yang harus dilakukan pada saat pelaksanaan observasi antara lain guru melatih tingkah laku mengajar berdasarkan komponen keterampilan yang telah disepakati dalam pertemuan pendahuluan. Di pihak lain supervisor mengamati dan mencatat atau merekam tingkah laku guru ketika mengajar. Supervisor juga dapat mengadakan observasi dan mencatat tingkah laku siswa dikelas serta interaksi siswa dengan guru.

  1. Tahap analisis hasil observasi

Pada tahapan ini kepala sekolah menganalisis hasil observasi berdasarkan pengamatannya ketika menilai keterampilan mengajar guru didalam kelas. Pada tahapan ini suwarna (2005:183) berpendapat bahwa “hasil observasi yang ada dianalisis dan dimaknai oleh kepala sekolah, sehingga dapat digunakan sebagai bekal diskusi dengan guru”. Dari pemaparan ini dapat disimpulkan bahwasannya dengan tahap analisis hasil observasi ini, kepala sekolah dapat mengetahui kekurangan/kelemahan guru yang harus diperbaiki oleh guru, dimana hal ini juga dapat digunakan sebagai bahan diskusi dengan guru pada tahap berikutnya.

  1. Tahap pertemuan balikan (pembicaraan hasil observasi dan tindak lanjut oleh guru)

Pertemuan balikan ini merupakan diskusi umpan balik antara supervisor dengan guru/calon guru. Suasana pertemuan sama dengan suasana pertemuan pendahuluan yaitu suasana akrab, terbuka, bebas, dari suasana menilai atau mengadili. Supervisor menyajikan data sedemikian rupa sehingga guru/calon guru dapat menemukan kekurangan dan kelebihannya sendiri. Secara lebih rinci langkah-langkah pertemuan balikan ini adalah

1)   Menanyakan perasaan guru tentang apa yang dialaminya dalam mengajar secara umum. Hal ini untuk menciptakan suasana santai, agar guru/calon guru tidak merasa diadili.

2)   Meriview tujuan pelajaran.

3)   Meriview target keterampilan serta perhatian utama guru dalam mengajar.

4)   Menanyakan perasaan guru tentang jalannya pelajaran berdasarkan target dan perhatian utamanya.

5)   Menunjukkan serta mengkaji hasil observasi.

6)   Supervisi yang diberikan bersifat bantuan dengan tujuan untuk meningkatkan keterampilan mengajar dan sikap profesional.

7)   Menanyakan perasaan guru/calon guru tentang proses dan hasil pelajaran tersebut.

8)   Menyimpulkan hasil dengan melihat apa yang sebenarnya telah terjadi/tercapai.

9)   Menentukan secara bersama rencana mengajar/latihan praktek mengajar yang akan datang baik berupa dorongan untuk meningkatkan hal-hal yang belum dikuasai dalam kegiatan yang baru berlaku, maupun keterampilan yang masih perlu disempurnakan.

Sunarwan, dkk (2005:184) mengemukakan ada beberapa manfaat dari pembicaraan hasil analisis (balikan), yaitu :

1)      guru mendapat penguatan dan kepuasan sehingga termotivasi untuk meningkatkan kinerjanya.

2)      isu-isu terbaru dapat didefinisikan bersama antara supervisor dan guru.

3)      supervisor dapat memberikan bantuan didaktis untuk perbaikan keterampilan-keterampilan yang dianggap lemah.

4)      guru dilatih atau dibimbing agar dapat melaksanakan supervisi diri sendiri.

5)      supervisor dapat membantu keterampilan analisis profesional diri pada masa mendatang.

  1. Motivasi

Motivasi adalah perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan (Hamalik, 1992:173). Menurut Mulyasa (2003:112) motivasi adalah tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu. Peserta didik akan bersungguh-sungguh karena memiliki motivasi yang tinggi. Seorang siswa akan belajar bila ada faktor pendorongnya yang disebut motivasi.Menurut Dunham (2005:37) bahwa : “Motivation is the will to make effective effort:”. (motivasi adalah kemauan untuk membuat usaha yang efektif).

Menurut Hasibuan (2003:92) “motivasi berasal dari kata latin movere yang berarti “dorongan atau daya penggerak”. Motivasi ini hanya diberikan kepada manusia, khususnya kepada para bawahan atau pengikut. Menurut Fillmore H. Stanford (Mangkunegara, 2002:93) “bahwa motivasi sebagai suatu kondisi yang menggerakkan manusia ke arah suatu tujuan tertentu”. Dalam hubungannya dengan lingkungan kerja, Ernest L McConnick (Mangkunegara, 2002:94) mengemukakan “motivasi kerja didefinisikan sebagai kondisi yang berpengaruh membangkitkan, mengarahkan dan memelihara perilaku yang berhubungan dengan lingkungan kerja”

Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkn bahwa motivasi adalah suatu dorongan yang diberikan oleh seseorang untuk memenuhi kebutuhan orang tersebut dalam perbaikan diri untuk berprestasi. Motivasi ini sangat penting dilakukan karena dengan adanya motivasi maka seseorang dapat lebih percaya diri untuk melakukan sesuatu karena ia merasa banyak orang yang mendukung dan peduli terhadap dirinya.

  1. Kinerja Guru

Smith dalam (Mulyasa, 2005: 136) menyatakan  bahwa kinerja adalah “…..output drive from processes, human or otherwise”. Kinerja merupakan hasil atau keluaran dari suatu proses. Dikatakan lebih lanjut oleh Mulyasa bahwa kinerja atau performance dapat diartikan sebagai prestasi kerja, pelaksanaan kerja, pencapaian kerja, hasil-hasil kerja atau unjuk kerja. Kinerja merupakan suatu konsep yang bersifat universal yang merupakan efektifitas operasional suatu organisasi, bagian organisasi, dan karyawannya berdasarkan standar dan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya.

Menurut Prawirasentono (1999: 2): “Performance adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing, dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi yang bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral ataupun etika”. Kinerja guru adalah kemampuan dan usaha untuk meaksanakan tugas sebaik baiknya  dalam perencanaan program pengajaran, pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Kinerja guru yang harus dicapai tentu berdasarkan kemampuan profesional selama melaksanakan tugas disekolah individu, proses dan hasil. Kinerja dapat dlihat dari beberapa kriteria, menurut Castetter ( dalam mulyasa, 2003) “ ada empat kriteria kinerja yaitu ; (1) Karakteristik individu, (2) Proses, (3) Hasil dan (4) Kombinasi antara karakter”.

Dari beberapa pengertian diatas mengenai kinerja dapat di indikasikan bahwa kinerja yaitu suatu usaha yang dilaksanakan sehingga menghasilkan suatu kualitas dari hasil pencapaian seseorang. Untuk pelaksanaan kinerja harusnya disesuaikan dengan kemampuan dan keahlian seseorang dalam bidangnya, sehingga kinerja yang akan dihasilkan pun dapat maksimal.

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Menurut Ngalim Purwanto, supervisi adalah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif.

Menurut Ernest L McConnick (Mangkunegara, 2002:94) mengemukakan “motivasi kerja didefinisikan sebagai kondisi yang berpengaruh membangkitkan, mengarahkan dan memelihara perilaku yang berhubungan dengan lingkungan kerja”

Menurut Mulyasa bahwa kinerja atau performance dapat diartikan sebagai prestasi kerja, pelaksanaan kerja, pencapaian kerja, hasil-hasil kerja atau unjuk kerja.

Ketiga hal tersebut secara langsung maupun tidak langsung saling berkaitan erat didalam sebuah sekolah, karena dari motivasi yang diberikan oleh kepala sekolah melalui supervisi klinis maka dapat menghasilkan sebuah kinerja yang bagus dan dengan adanya supervisi klinis tersebut kesulitan-kesulitan yang dialami oleh guru juga dapat teselesaikan dengan cepat tanpa harus menunda. Namun untuk kelancaran semua tugas tersebut kuncinya yaitu adanya suatu kesepakatan antara kepala sekolah dengan guru untuk sama-sama menyelesaikan dan mecari solusi demi mencapai sebuah profesionalitas. Karena kinerja yang baik akan berkontribusi terhadap produktivitas dan produktivitas akan berkontribusi terhadap kepuasan karyawan dalam suatu organisasi.

  1. Saran

Untuk semua sekolah yang ada indonesia seharusnya menerapkan supervisi klinis ini, hal ini dikarenakan, dari pelaksanaan atau kegiatan supervis klinis ini dapat dijadikan suatu perubahan untuk perbaikan kinerja dari guru dan untuk menunjang keberlangsungan manajemen yang ada disekoalah. Sedangkan untuk sekolah yang sudah menerapkan kegiatan ini maka lebih ditekankan kembali untuk pemberian saran, solusi dan motivasi agar semua kesulitan-kesulitan yang dihadapi penangannya dapat sesuai dan tidak memberatkan hati atau kegiatan dari para guru.

DAFTAR RUJUKAN

Bulow, Irma Djanapa. Diklat profesi kinerja guru.(online),  (http://bdkmanado.kemenag.go.id/file/dokumen/IrmaDiklatProfesiKinerjaGuru.pdf). Diakses 18 Mei 2013

Faisal. metodologi penelitian. (online). (http://lib.uin-malang.ac.id/thesis/chapter_iii/09770005-fitriyatul-h.ps, diakses tangga 12 desember 2012).

Hanif,H. (online), (eprints.uny.ac.id/7965/3/bab%202%20-10504247012.pdf). diakses 18 Mei 2013.

IPB. 2009. Metodologi penelitian. (online), (http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/12247/BAB%20III%20Metodologi%20Penelitian_%20I09fha.pdf?sequence=7 , diakses tanggal 12 desember 2012).

JS.Sukardjo. 1989. Pengertian , prinsip dan prosedur supervsi klinis. (online), (http://jssukardjo.staff.fkip.uns.ac.id/2009/04/08/pengertian-prinsip-dan-prosedur-supervisi-klinis/, diakses tanggal 12 desember 2012).

Lexy J. Moleong. 2005. metodologi penelitian kualitatif. (online), (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2005).

Sarjanaku. 2012. Pengertian motivasi menurut para ahli. (online), (http://www.sarjanaku.com/2012/04/pengertian-motivasi-menurut-para-ahli.html). Diakses 18 Mei 2013

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, (bandung: citra Umbara, 2007).

Posted in MOTIVASI KINERJA GURU MELALUI SUPERVISI KLINIS | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

SUPLEMEN SUPERVISI KLINIS

  1. 1.    PROSEDUR SUPERVISI KLINIS
    1. A.    Proses

Sebagaimana telah disinggung dimuka, prosedur supervisi klinis berlangsung dalam suatu proses berbentuk siklus yang terdiri dari tiga tahap yaitu: tahap pertemuan pendahuluan, tahap pengamatan dan tahap pertemuan balikan. Dua tahap diantaranya memerlukan pertemuan antara guru dan supervisor yaitu pertemuan pendahuluan dan pertemuan balikan.

  1. Tahap pertemuan pendahuluan

Dalam tahap ini supervisor dan guru bersama-sama membicarakan rencana tentang ketrampilan yang akan diobservasi dan dicatat. Tahap ini memberikan kesempatan kepada guru dan supervisor untuk mengidentifikasi perhatian utama guru kemudian menterjemahkannya ke dalam bentuk tingkah laku yang dapat diamati. Dibicarakan dalam ditentukan juga jenis data mengajar yang akan diobservasi dan dicatat selama pelajaran berlangsung.

Suatu komunikasi yang efektif dan terbuka diperlukan dalam tahap ini guna mengikat supervisor dan guru sebagai partner di dalam suasana kerjasama yang harmonis. Secara teknis diperlukan lima langkah utama bagi terlaksananya pertemuan pendahuluan dengan baik, yaitu

  1. Menciptakan suasana akrab antara supervisor dengan guru sebelum langkah- langkah selanjutnya dibicarakan.
  2. Mereviu rencana pelajaran serta tujuan pelajaran.
  3. Mereviu komponen ketrampilan yang akan dilatihkan dan diamati.
  4. Memilih atau mengembangkan suatu instrumen observasi yang akan dipkai untuk merekam tingkah laku guru yang menjadi perhatian utamanya.
  5. 12

     

    Instrumen observasi yang dipilih atau yang dikembangkan, dibicarakan bersama antara guru dan supervisor. Kesepakatan-kcsepakatan tenrang perhatian utama serta cara perekamannya merupakan semacan kontrak yang merupakan rambu-rambu yang mengatur perwujudan peranan kedua belah pihak di dalam pelaksanaan supervisi klinis yang bersangkutan

  1. Tahap pengamatan mengajar

Pada tahap ini guru melatih tingkah laku mengajar berdasarkan komponen ketrampilan yang telah disepakati dalam pertemuan pendahuluan. Dipihak lain supervisor mengamati dan mencatat atau merekam secara obyektif, lengkap dan apa adanya tingkah laku guru ketika mengajar, berdasarkan komponen ketrampilan yang diminta oleh guru untuk direkam. Supervisor dapat juga mengadakan observasi dan mencatat tingkah laku siswa di kelas serta interaksi antara guru dan siswa.

  1. Tahap pertemuan balikan

Sebelum pertemuan balikan dilaksanakan,  supervisor mengadakan analisis pendahuluan tentang hasil rekaman observasi yang dibuat sebagai bahan dalam pembicaraan tahap ini. Pada pertemuan balikan supervisor hendaknya berusaha menganalisis dan menginterpretasikan tentang data hasil rekaman tingkah laku guru waktu mengajar. Langkah-langkah utama dalam tahap ini adalah:

  1. Menanyakan perasaan guru secara umum atau kesan umum guru ketika Ia mengajar, serta memberi penguatan.
  2. Mereviu tujuan pelajaran.
  3. Mereviu target ketrampilan serta perhatian utama guru.
  4. Menanyakan perasaan guru tentang jalannya pelajaran berdasarkan target dan perhatian utamanya.
  5. Menunjukkan data hasil rekaman dan memberi kesempatan kepada guru menafsirkan.
  6. Bersama-sama mengintepretasi data rekaman.
  7. Menanyakan perasaan guru setelah melihat rekaman data tersebut.
  8. Menyimpulkan hasil dengan melihat apa yang sebenarnya merupakan keinginan atau target guru dan apa yang sebenarnya telah terjadi atau tercapai.
  9. Menentukan bersama-sama dan mendorong guru untuk merencanakan hal-hal yang perlu dilatih atau diperhatikan pada kesempatan berikutnya.
  1. A.          Kriteria Dan Tehnik

Dalam melaksanakan proses supervisi klinis melalui tiga tahap kegiatan seperti tersebut dimuka, diperlukan criteria serta teknik tertentu agar proses supervisi klinis itu dapat berjalan lancar.

  1. Kriteria dan teknik pertemuan pendahuluan
    1. Mengadakan pertemuan dengan guru dalam suasana yang menyenangkan, tidak “mengancam” dan menakuti.
    2. Menentukan bersama segi apayang harus diamati selama pelajaran berlangsung dan bagaimana mencatat hasil observasi.
    3. Jika ada, supervisor menanyakan pengalaman penampilan masa lalu untuk melihat segi-segi atau sub-ketrampilan yang akan diperbaiki atau disempurnakan.
    4. Kriteria dan teknik observasi

Fungsi utama observasi adalah berusaha “menangkap” apa yang terjadi selama pelajaran berlangsung secara lengkap agar supervisor dan guru dapat secara tepat mengingat kembali pelajaran atau bagian dari pelajaran dengan tujuan mengadakan analisis yang obyektif. Ide pokok adalah mencatat apa yang terjadi dan bukan reaksi supervisor tentang apa yang terjadi. Suatu rekaman yang disimpan dengan baik akan bermanfaat dalam analisis dan komentar kemudian.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam hubungan ini adalah:

  1. Kelengkapan catatan
  2. Usahakan mencatat sebanyak mungkin yang dikatakan atau yang dilakukan selama pelajaran berlangsung. Hasilnya akan merupakan bukti-bukti bagi guru dan supervisor untuk dikemukakan pada waktu bersama-sama menganalisis apa yang telah terjadi selama pelajaran berlangsung. Semakin spesifik yang digambarkan, semakin berarti analisis supervisor. Dari pada mengatakan: “teknik bertanya anda merintangi jawaban siswa”, maka akan lebih baik apabila supervisor dapat menunjukkan beberapa pertanyaan atau pernyataan guru sewaktu mengajar untuk menggambarkan maksud tersebut
  1. Fokus

Karena tidak mungkin untuk mencatat segala sesuatu yang terjadi dalam kelas maka supervisor harus memiliki aspek-aspek ketrampilan yang akan dicatat. Hal ini sebaiknya dilakukan dengan persetujuan guru sebelumnya yaitu didalam pertemuan pendahuluan, yang sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya diwujudkan dalam bentuk semacam kontrak. Misalnya dalam suatu pelajaran tertentu adalah baik untuk memfokuskan observasi tersebut pada reaksi siswa terhadap pertanyaan guru, atau pada penyebaran pertanyaan, dan sebagainya.

  1. Menyesuaikan observasi dengan periode perkembangan mengajar guru. Observasi mungkin harus menjadi lebih selektif bila praktek atau latihan mengajar guru berkembang. Jika perhatian lebih terfokus pada aspek-aspek yang guru inginkan  untuk lebih diperhatikan, misalnya guru mempunyai kesulitan mengadakan transisi dalam pelajaran maka hal tersebut merupakan sesuatu yang perlu difokuskan dalam observasi.
  2. Mencatat komentar

Walaupun proses mencatat harus seobyektif mungkin, supervisor sering ingin mencatat komentar-komentarnya agar supaya tidak terlupakan. Cara terbaik untuk melakukan hal ini adalah dengan memisahkan komentar dari catatan tentang proses pengajaran. Catatan ini ditempatkan pada tepi format observasi atau dengan menggunakan tanda kurang.

  1. Pola mengajar

Adalah sangat bermanfaat untuk mencatat pola tingkah laku mengajar tertentu dari guru misalnya dalam memberikan penguatan atau dalam mereaksi terhadap pertanyaan siswa untuk dibicarakan dalam pertemuan balikan.

  1. Membuat guru tidak merasa gelisah. Pada permulaan latihan sesuatu ketrampilan mengajar, guru sering menjadi bingung apabila ada orang dibelakang kelas mengamati sambil membuat catatan-catatan mengenai dirinya. Untuk meredakan atau menghilangkan perasaan gelisah ini maka dalam pertemuan pendahuluan supervisor harus mengatakan secara jelas bahwa yang akan dicatat hanya hal-hal yang disepakati. Sekali lagi, harus ada persetujuan atau kesepakatan tentang apa yang akan diobservasi atau dicatat.
  2. Kriteria dan Teknik Balikan

Fungsi balikan dalam hubungannya dengan supervisi klinis adalah untuk menolong guru mempertimbangkan perubahan atau lebih tepat peningkatan tingkah laku mengajarnya. Balikan merupakan suatu informasi kepada guru tentang bagaimana guru mempengaruhi siswanya dalam kegiatan belajar-mengajar. Untuk mencapai maksud tersebut maka balikan harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

  1. Lebih bersifat deskriptif dari pada evaluatif.

Fungsinya adalah analisis untuk menghasilkan            perbaikan dengan memperinci tingkah laku guru dalam mengajarnya. Hal tersebut akan menolong guru, kemudian dapat menggunakannya apabila itu            dengan menghindari bahasa yang lebih bersifat evaluatif maka akan terkurangi reaksi atau sikap defensive guru (membela diri).

  1. Bersifat Spesifik

Adalah kurang tepat apabila kepada seorang guru dikatakan bahwa cara anda memberi penguatan kurang tepat, sebab dengan cara demikian guru belum/tidak mengetahui dalam segi apa ia member penguatan secara tidak tepat, misalnya apakah dalam penguatan verbal, gerakan badan atau lainnya.

  1. Memenuhi kebutuhan baik supervisor maupun guru

Suatu balikan tidak akan bermanfaat apabila ia hanya memenuhi kebutuhan supervisor sebagai pemberi balikan dan mengabaikan kebutuhan guru sebagai penerima balikan tersebut.

  1. Ditujukan untuk tingkah laku guru yang dapat dikendalikannya.

Seorang guru akan mengalami frustasi apabila ia diingatkan tentang sesuatu kekurangan yang berada diluar kemampuannya untuk diatasi atau dipecahkan, misalnya supervisor menegur karena tubuhnya yang pendek sehingga ia sukar menguasai kelas dengan berbuat apapun.

  1. Isi balikan merupakan permintaan guru dan bukan yang diada-adakan oleh supervisor.
  2. Tepat waktunya

Balikan akan lebih bermanfaat apabila segera diberikan sesudah pelaksanaan mengajar.

  1. Harus terkomunikasikan secara jelas kepada guru. Untuk melakukan hal ini maka guru diminta untuk mengatakan kembali apa yang menjadi target serta perhatian utamanya guna dibandingkan dengan yang dimaksud oleh supervisor.
  2. Apabila balikan itu diberikan dalam kelompok maka guru dan supervisor harus mempunyai kesempatan untuk mencocokkannya dengan yang diberikan kelompok untuk menguji ketepatan balikan tersebut. Dengan demikian dapat diketahui apakah balikan tersebut merupakan kesan satu orang atau merupakan kesan orang lain juga.
  3. Harus dapat menolong guru memperhatikan kelebihan-kelebihannya untuk mengembangkan gaya mengajarnya sendiri. Dalam hal ini perlu diberi penguatan untuk cara mengajar yang efektif tersebut.
  4. Hendaknya dimulai dulu dengan menunjukkan keunggulan-keunggulan atau segi-segi yang kuat, baru kemudian mendiskusikan segi-segi yang menimbulkan masalah baginya.
  5. Data balikan dalam bentuk instrument observasi harus disimpan dengan baik oleh supervisor dan merupakan catatan mengenai perkembangkan ketrampilan mengajar guru, seperti kartu status pasien bagi seorang dokter yang sewaktu-waktu dapat digunakan bila diperlukan.

Dari sebelas criteria tersebut dapat disimpulkan bahwa balikan merupakan suatu cara dan alat untuk memberikan pertolongan. Balikan merupakan mekanisme yang bersifat korektif bagi guru untuk melihat sampai seberapa jauh penampilan tingkah lakunya didalam mengajar sesuai dengan yang diinginkannya. Balikan  juga merupakan suatu sarana dalam menetapkan identitas seseorang karena secara tidak langsung menjawab pertanyaan: “Siapakah sebenarnya saya ini?”.

  1. B.          Instrumen Observasi

Dalam melaksanakan observasi dalam supervisi klinis dapat digunakan berbagai format atau instrument observasi format tersebut dapat dipilih dari yang sudah ada dalam berbagai literature mengenai supervisi klinis dan pengajaran mikro, tetapi dapat pula dikembangkan sendiri oleh supervisor berdasarkan target dan jenis ketrampilan yang ingin dilatih dan diobservasi. Dalam kemajuan teknologi metakhir saat ini tentu dapat pula digunakan tape recorder, film dan video tape recorder untuk merekan penampilan mengajar guru.

Berikut ini diberikan beberapa contoh instrument observasi untuk berbagai jenis ketrampilan dan sub-ketrampilan yang ingin dilatih guru. Disamping itu diberikan pula sebuah contoh instrument observasi untuk merekam ketrampilan seorang supervisor dalam mensupervisi, pada tahap pertemuan pendahuluan dan tahap pertemuan balikan.

Pembahasan Lebih Lanjut : SUPLEMEN SUPERVISI KLINIS

Posted in suplemen supervisi klinis | Leave a comment

CONTOH ARTIKEL SUPERVISI UMUM dan SUPERVISI KLINIS

CONTOH ARTIKEL SUPERVISI UMUM dan KLINIS

Aside | Posted on by | Leave a comment

perbedaan supervisi umum dan pengajaran (klinis)

SEKILAS PERBEDAAN MENGENAI SUPERVISI UMUM dengan SUPERVISI PENGAJARAN 1. Supervisi Pendidikan (Umum) A. Pengertian Supervisi Pendidikan Menurut N.A. Ametembun dkk Supervisi Pendidikan adalah pembinaan yang berupa bimbingan atau tuntutan ke arah perbaikan Situasi pada umumnya dan peningkatan mutu mengajar dan belajar pada khusunya. B. Tujuan Supervisi Pendidikan a. Berdasarkan tujuan umum Membina orang-orang yang disupervisi menjadi manusia “dewasa” yang sanggup berdiri sendiri. b. Berdasarkan tujuan pendidikan nasional Membina orang-orang yang disupervisi menjadi manusia-manusia pembangunan yang dewasa dan pancasilais. c. Berdasarkan tujuan supervisi sendiri Agar tercapai perbaikan situasi pendidikan dan pengajaran pada umumnya dan peningkatan mutu pada khususnya. C. Teknik-teknik dalam Supervisi Pendidikan 1. Teknik Supervisi yang bersifat kelompok a. Pertemuan orientasi bagui guru baru b. Rapat guru c. Studi kelompok antar guru d. Diskusi e. Teknik tukar pengalaman (Sharing) 2. Supervisi Akdemik/Pengajaran/Supervisi Klinis A. Pengertian Supervisi Klinis Supervisi klinis adalah suatu proses bimbingan yang bertujuan membantu pengembangan kemampuan professional guru/calon guru, khususnya dalam penampilan mengajarnya, berdasarkan observasi dan analisis data secara teliti dan obyektif (Sergiovanni dan Starrat, 1979). B. Tujuan Supervisi Klinis 1. Membantu pengembangan professional guru/calon guru khususnya, dalam penampilan mengajar guru dikelas. 2. Menumbuhkan dan meningkatkan sikap percaya pada diri sendiri dan pengertian bahwa keberhasilan supervisi merupakan tanggung jawab bersama antara guru dan supervisor, sehingga melahirkan sikap keterbukaan. C. Tahapan siklus supervisi klinis 1. Fase Pre-Observasi a. Mengembangkan hubungan kesejawatan antara supervisor dengan guru. b. Menyusun rencana pembelajaran. c. Menyusun strategi observasi. 2. Fase observasi. 3. Fase Post-Observasi a. Menganalisis proses belajar mengajar. b. Merencanakan pertemuan. c. Pertemuan Supervisor – Guru. d. Follow up. Jadi Supervisi klinis lebih ditekankan pada masalah pengajaran di kelas, sedangkan supervisi (Supervisi umum) atau Supervisi Pendidikan pada masalah-masalah fungsi manajemen pendidikan yang lebih luas cakupan dan variabelna

sumber: http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=contoh+karya+tulis+mengenai+supervisi+pendidikan+filetype%3Apdf&source=web&cd=2&cad=rja&ved=0CDQQFjAB&url=http%3A%2F%2Fblog.tp.ac.id%2Fpdf%2Ftag%2Fcontoh-makalah-tentang-supervisi-dan–evaluasi-pendidikan.pdf&ei=YKxyUfG0G8bQrAf0xoHgDQ&usg=AFQjCNGpS9HzXFLTvQT7OCsWOjyFSHh_jw&bvm=bv.45512109,d.bmk

Posted in perbedaan supervisi umum dan pengajaran (klinis) | Leave a comment