PELAKSANAAN SUPERVISI PENDIDIKAN (UMUM) DISEKOLAH

PELAKSANAAN SUPERVISI PENDIDIKAN (UMUM) DISEKOLAH

 

Dewi Fujianah

Nim 101714203

 

Program Studi Manajemen Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya

Abstrak

Di dalam manajemen pengelolaan sebuah sekolah tentunya dibutuhkan suatu pengawasan untuk dapat mengetahui dan dapat mengevaluasi segala kekurangan-kekurangan yang ada disekolah. Kepengawasan tersebut dapat dilakukann oleh kepala sekolah, penilik atau pengawas pusat. Yang mana dari masing-masing memiliki fungsi yang hampir sama, namun jika untuk menilai keseluruhan dari mulai akademis, kelembagaan dan administrasi seolah maka dibutuhkan pengawas dari lembaga tertinggi yang nantinya akan ditunjuk secara langsung oleh dinas pendidkan untuk dapat ke sekolah, untuk melakukan penilaain dan untuk melakukan pengawasan dan orang yang mengawasi ini biasanya disebut dengan supervisor. Penilaian dan pengawasan yang dilakukan didasarkan pada kaidah-kaidah tugas dan proses bagaimana kepengawasan tersebut berjalan. Selama melakukan pengawasan dan penilaian supervisor dapat didampingi oleh kepala sekolah ataupun dapat sendiri. Sistem dari kepengawasan in ada bermacam-macam ada yang kunjungan secara tiba-tiba yaitu tanpa pemberitahuan dan ada kunjungan dengan pemberitahuan. Yang mana semua memiliki tujuan dan maksud tertentu. Untuk kunjungan yang tiba-tiba disni untuk melihat kesiapan dan aktifitas  sekolah sehari-harinya sedangkan untuk yang kunjungan dengan pemberitahuan biasanya dilakukan ketika terdapat sebuah masalah disekolah tersebut dan supervisor disini sebagai penengah untuk membantu penyelesainnya. Sehingga supervisor tidak boleh bersifat menghakimi dengan seksama.

Kata Kunci: Supervisi Pendidikan, Pelaksanaan Supervisi Pendidikan

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan suatu sistem kerja yang saling terkait antara komponen yang satu dengan lainnya. Upaya untuk melaksanakan pencapaiannya yakni mencapai tujuan pendidikan yang dikehendaki. Hal tersebut harus di ikuti dengan prinsip-prinsip yang telah dikembangkan serta teruji kebenarannya. Dalam peningkatan mutu dan relevansi pendidikan adalah tantangan yang paling penting dalam pembangunan pendidikan. Dalam pengelolaan dan penataan manajemen pendidikan, tantangan yang dihadapi adalah bagaimana melakukan pembaharuan organisasi dan manajemen pendidikan dalam rangka efisiensi dan efektifitas, serta otonomi pengelolaan pendidikan. Dalam pengelolaan tersebut yang secara langsung maupun tidak langsung dilakukan oleh seseorang yang saling tergabung didalam lingkungan organisasi tersebut, terkadang disini banyak yang tidak menyadari akan tugas dan fungsinya. Dalam kondisi atau keadaan seperti ini tentunya dibutuhkan suatu perubahan agar dapat mewujudkan tujuan yang diinginkan. Dalam melakukan proses perubahan sikap dari manusia tersebut yang secara langsung dipengaruhi oleh manusia lain itu sebenarnya memerlukan suatu pengkajian yang cermat dalam pengajar dan pendidikan yang secara langsung terkait erat dengan kondisi lingkungan sekaligus pengaruh dari figur kepala sekolah yang menjadi atasannya.

Didalam mencapai suatu tujuan tentunya dibutuhkan pula suatu pengawasan yang tujuannya yaitu untuk mencapai suatu ketercapaiaan target melalui evaluasi kinerja bersama. Orang yang bagian pengawasan ini berada dalam tingkatan tertinggi dan memilki keahlian khusus yang di tunjuk secara langsung untuk datang ke sekolah. sebutan untuk orang pengawas tersebut yaitu supervisor yang berasal dari Dinas Pendidikan setempat, yang fungsinya yaitu untuk mengawasi dan menilai sekolah tersebut seperti apa, baik kondisi guru, staf ataupun yang lainnya, yang biasanya didampingi oleh kepala sekolah. dengan adanya pengawasan seperti ini dapat digunakan sebagai evaluasi diri sekolah untuk dapat melihat kekurangan-kekurangan apa saja yang telah terjadi atau yang ada di sekolah.

Supervisi pendidikan merupakan disiplin ilmu yang memfokuskan diri pada pengkajian peningkatan situasi belajar mengajar, memberdayakan guru dan mempertinggi kualitas mengajar. Supervisi pendidikan ini menaungi pengawasan semuanya baik dari segi supervisi akademik, supervisi administrasi ataupun supervisi lembaga. Supervisi di era sekarang ini sangat dibutuhkan keberadaannya karena merupakan jaminan mutu (QA), sebagai pendorong mutu untuk sekolah, sebagai transparasi bagi siswa dan orang tua atau masyarakat, dapat mendorong terjadinya proses perbaikan mutu internal secara berkelanjutan, serta menjadi akuntabilitas pendidikan kepada masyarakat. Dan ketika supervisor sudah terjun ke lapangan untuk mengawasi dan mengamati kemudian diberikan feedback. Ini merupakan bentuk tindak lanjut yang diberikan oleh supervisor kepada orang atau pihak yang disupervisi. Disini diharapkan setelah adanya feedback pihak yang disupervisi dapat berubah untuk mengembangkan kemampuannya lebih baik dan lebih sempurna kembali.

ISI

  1. Konsep Dasar Supervisi Pendidikan
  2. Pengertian Supervisi Pendidikan

Menurut N.A. Ametembun dkk Supervisi Pendidikan  adalah pembinaan yang berupa bimbingan atau tuntutan ke arah perbaikan Situasi pada umumnya dan peningkatan mutu  mengajar dan belajar pada khusunya. Secara etimologis, supervisi menurut S. Wajowasito dan W.J.S Poerwadarminta yang dikutip oleh Ametembun (1993:1) : “Supervisi dialih bahasakan dari perkataan inggris “Supervision” artinya pengawasan. Pengertian supervisi secara etimologis masih menurut Ametembun (1993:2), menyebutkan bahwa dilihat dari bentuk perkataannya, supervisi terdiri dari dua buah kata super + vision : Super = atas, lebih, Vision = lihat, tilik, awasi. Makna yang terkandung dari pengertian tersebut, bahwa seorang supervisor mempunyai kedudukan atau posisi lebih dari orang yang disupervisi, tugasnya adalah melihat, menilik atau mengawasi orang-orang yang disupervisi.

Para ahli dalam bidang administrasi pendidikan memberikan kesepakatan bahwa supervisi pendidikan merupakan disiplin ilmu yang memfokuskan diri pada pengkajian peningkatan situasi belajar-mengajar, seperti yang diungkapkan oleh ( Gregorio, 1966, Glickman Carl D, 1990, Sergiovanni, 1993 dan Gregg Miller, 2003). Rifa’i (1992: 20) merumuskan istilah supervisi merupakan pengawasan profesional, sebab hal ini disamping bersifat lebih spesifik juga melakukan pengamatan terhadap pengawasan akademik yang mendasarkan pada kemampuan ilmiah, dan pendekatannya pun bukan lagi pengawasan manajemen biasa yang bersifat human, tetapi lebih bersifat menuntut kemampuan profesional yang demokratis dan humanistik oleh para pengawas pendidikan.

Dari beberapa pengertian diatas dapat di indikasikan bahwa supervisi pendidikan adalah sebuah tugas profesional yang dilaksanakan oleh seorang ahli yang telah di tunjuk dari lembaga tertinggi, yang berfungsi untuk emngawasi dan menilai kinerja berdasarkan kaidah-kaidah perngawasan yang ada. Dari kegiatan supervisi ini diharapkan dapat mengembangkan dan dapat memperbaiki kualitas untuk pihak-pihak yang bermasalah didalam aktifitasnya.

  1. Pinsip supervisi pendidikan
    1. Prinsip Fundamental berlandaskan pada nilai-nilai luhur Pancasila dan Agama
    2. Prinsip Praktis:

a)      Prinsip Negatif yang harus dihindari:

1)   Supervisi tidak boleh bersifat mendesak (otoriter)

2)   Supervisi tidak boleh didasarkan atas kekuasaan

3)   Supervisi tidak boleh lepas dari tujuan pendidikan dan pengajaran

4)   Supervisi hendaknya tidak hanya menilai hal-hal yang nampak terlihat

5)   Supervisi tidak mencari kelemahan/kekurangan/ kesalahan

6)   Supervisi jangan terlalu berharap cepat mengharapkan hasil atau perubahan

b)      Prinsip-Prinsip Positif:

1)      Supervisi bersifat konstruktif dan kreatif

2)      Supervisi didasarkan kepada sumber-sumber kolektif dari kelompok tidak hanya dari supervisor sendiri.

Supervisor Yang Baik:

1)      Mempergunakan sumber-sumber dan usaha-usaha dari kelompok

2)      Bekerja di dalam dan bersama-sama dengan kelompoknya

3)      Membina guru-guru dan siswa menjadi orang-orang yang terdidik

4)      Bekerja dengan (within) dan bersama-sama dengan

5)      Kelompok rekannya, membina diri sendiri dan rekannya untuk bekerja dengan baik. Supervisi dilandasi oleh hubungan profesional bukan hubungan pribadi

6)      Supervisi hendaklah dapat mengembangkan kesanggupan para guru dan karyawan sehingga menjadi kekuatan sekolah

7)      Supervisi hendaklah memperhatikan kesejahteraan para guru, karyawan dan hubungan baik diantara mereka

8)      Supervisi hendaklah progresif, dilaksanakan bertahap tapi penuh ketekunan

9)      Supervisi hendaklah dimulai dengan keadaan dan kenyataan yang sebenarnya

10)  Supervisi hendaklah selalu memperhitungkan kesanggupan dan sikap-sikap orang yang disupervisi, bahkan juga prasangkaprasangka mereka

11)  Supervisi hendaklah sederhana dan informal dalam pelaksanaannya

12)  Supervisi hendaklah obyektif dan sanggup mengevaluasi diri sendiri

  1. Program Supervisi Pendidikan

1)      Kemampuan menjabarkan kurikulum ke dalam program cawu

2)      Kemampuan menyusun perencanaan mengajar (satpel)

3)      Kemampuan dalam melaksanakan KBM dengan baik

4)      Kemampuan menilai proses dan hasil belajar

5)      Kemampuan untuk memberi umpan balik secara teratur dan terus menerus

6)      Kemampuan membuat dan menggunakan alat bantu mengajar secara sederhana

7)      Kemampuan dalam menggunakan/ memanfaatkan lingkungan sebagai media dan sumber belajar

8)      Kemampuan membimbing dan melayani murid yang mengalami kesulitan dalam belajar

9)      Kemampuan mengatur waktu dan menggunakannya secara efektif dan efisien untuk menyelesaikan programprogram belajar murid

10)  Kemampuan memberikan pelajaran dengan memperhatikan perbedaan individual diantara para siswa

11)  Kemampuan mengelola KBM ko dan ekstra kurikuler serta kegiatan lainnya yang berkaitan dg belajar siswa

  1. Gaya Kepemimpinan Supervisor Pendidikan

1)   Supervisor yang Otokratis: “seorang supervisor yang menentukan sendiri segala sesuatunya untuk dan harus dilaksanakan oleh warga sekolah melalui proses pengawasan yang seksama.”

2)   Supervisor yang Demokratis: “seorang supervisor yang menyadari fungsinya untuk membina warga sekolah melalui proses pengambilan keputusan bersama melalui musyawarah dengan warga sekolah dalam mencapai tujuan pendidikan.

3)   Supervisor yang “Laissez faire”: “seorang supervisor yang memberikan kebebasan dan keleluasaan kepada orang-orang yang disupervisi untuk melakukan apa yang dianggapnya baik. Ditandai dengan sikapnya yang apatis, masabodoh, acuh tak acuh dan mempercayakan segala sesuatunya kepada warga sekolah untuk melakukannya.”

4)   Supervisor yang Psedo-demokratis: “seorang supervisor yang melakukan proses dengan cara demokratis tetapi pada kenyataannya ditentukan segala sesuatunya oleh sendiri. Sehingga hasil musyawarah diabaikan atau tidak berarti apa-apa pada warga sekolah.

  1. Kegiatan Supervisi Pendidikan

Supervisi pada dasarnya diarahkan pada tiga kegiatan, yakni: supervisi akademis, supervisi administrasi dan supervisi lembaga. Ketiga kegiatan besar tersebut masing-masing memiliki garapan serta wilayah tersendiri. Supervisi akademis sendiri dititik beratkan pada pengamatan supervisor tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan kegiatan akademis, diantaranya hal-hal yang langung berada dalam lingkungan kegiatan pembelajaran pada waktu siswa sedang dalam proses mempelajari sesuatu. Sedangkan supervisi administrasi menitik beratkan pada pengamatan supervisor pada aspek-aspek administrasi yang berfungsi sebagai pendukung dan pelancar terlaksananya pembelajaran dan administrasi lembaga sendiri diarahkan pada kegiatan dalam rangka menyebarkan objek pengamatan supervisor tentang aspek-aspek yang berada di seantero sekolah dan berperan dalam meningkatkan nama baik sekolah atau kinerja sekolah secara keseluruhan.

Sasaran pengawasan di lingkungan kelembagaan pendidikan selama ini menunjukkan kesan seolah-olah segi fisik material yang tampak merupakan saaran yang sangat penting, namun pengolahan dana, sistem kepegawaian, perlengkapan serta sistem informasi yang dipergunakan oleh lembaga nyaris merupakan sesuatu yang terabaikan. Supervisi kelembagaan menebarkan objek pengamatan supervisor pada aspek-aspek yang berada di lingkungan sekolah, artinya lebih bertumpu pada citra dan kualitas sekolah, sebab dapat dimaklumi bahwa sekolah yang memiliki popularitas akan menjadi lembaga pendidikan yang secara otomatis dapat menarik perhatian masyarakat yang pada gilirannya akan menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah dimaksud.

  1. Teknik Supervisi Pendidikan
    1. Teknik-teknik dalam Supervisi Pendidikan
      1. Teknik Supervisi yang bersifat kelompok

a)    Pertemuan orientasi bagui guru baru

b)   Rapat guru

c)    Studi kelompok antar guru

d)   Diskusi

e)    Teknik tukar pengalaman (Sharing)

  1. Teknik Individu dalam Supervisi

a)      Teknik kunjungan kelas

b)      Teknik observasi kelas

c)      Percakapan pribadi

d)     Intervisitasi (mengunjungi sekolah lain)

e)      Penyeleksian berbagai sumber materi untuk mengajar

f)       Menilai diri sendiri

  1. Cara Pelaksanaan Supervisi Pendidikan Disekolah

Secara singkat gambaran tentang berbagai cara pelaksanaan pembinaan dan pelayanan profesional kepada guru adalah sebagai berikut:

No.

Jenis Pelayanan/ Pembinaan

Teknik Pelaksanaan

Tujuan

Keuntungan

Hambatan/ Kelemahan

1. Kunjungan Kelas Observasi PBM di kelas oleh Penilik/Pengawas/Kepala sekolah Mengertahui cara guru melaksanakan PBM
  1. Dapat mengetahui kelebihan yang dapat dikembangkan
  2. Dapat mengetahui kelemahan untuk perbaikan
  3. Dapat memberikan koreksi/perbaikan sesuai kebutuhan
Guru merasa canggung & kurang bebas.
2. Pertemuan Pribadi Penilik/Kepala Sekolah bertatap muka dengan seorang guru Bantuan khusus Berdialog langsung lebih terarah Agak sulit menentukan waktu
3. Rapat Staf Kepala Sekolah/Penilik berhadapan dengan para guru Bantuan umum Bantuan diberikan kepada seluruh guru dalam satu kali pertemuan dan pertukaran pikiran secara umum Agak sulit menentukan dan cukup menyita waktu
4. Kunjungan Antar Kelas Guru dari salah satu kelas mengunjungi kelas lain dalam satu sekolah Mengetahui cara guru lain dalam KBM dan pengelolaan kelas
  1. Mengetahui guru lain dalam melaksanakan KBM dan pengelolaan kelas.
  2. Hal-hal yang baik dapat dijadikan contoh
  3. Hal-hal yang kurang baik dapat didiskusikan.
Mengganggu KBM kelas lain kelas sendiri ditinggalkan
5.

Kunjungan Sekolah

  1. Oleh Penilik/Pengawas tanpa pemberitahuan

Mengetahui keadaan sebenarnyaDapat memberikan bimbingan aktualDianggap kurang demokratis

  1. Dengan Pemberitahuan

Guru mengetahui maksud dan tujuan kunjunganKepala Sekolah/Guru dapat menunjukkan hasil usahanyaTidak mencerminkan keadaan sehari-hari

  1. Atas Undangan

Guru ingin diketahui keberhasilannyaDapat melayani kebutuhan khusus/setempat 6.Kunjungan Antar SekolahGuru dari sekolah lain dikunjungi oleh suatu sekolahMengetahui di sekolah lain melakukan KBM dan pengelolaan sekolahnya dan kelas

  1. Mengetahui bagaimana guru sekolah lain KBM dan mengelola sekolah.
  2. Hal-hal yang baik dapat dicontoh sedangkan hal-hal yang kurang baik didiskusikan.
    1. Mungkin mengganggu
    2. Sekolah/kelas sendiri ditinggalakn

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Menurut N.A. Ametembun dkk Supervisi Pendidikan  adalah pembinaan yang berupa bimbingan atau tuntutan ke arah perbaikan Situasi pada umumnya dan peningkatan mutu  mengajar dan belajar pada khusunya. Para ahli dalam bidang administrasi pendidikan memberikan kesepakatan bahwa supervisi pendidikan merupakan disiplin ilmu yang memfokuskan diri pada pengkajian peningkatan situasi belajar-mengajar, seperti yang diungkapkan oleh ( Gregorio, 1966, Glickman Carl D, 1990, Sergiovanni, 1993 dan Gregg Miller, 2003).

Dilihat dari pengertian supervisi pendidikan yaitu supervisor sebagai pengawas di sekolah harus dapat memberikan feedback berupa saran-saran dan solusi yang mendukung untuk perubahan dan perbaikan situasi yanga da disekolah. Pengawas pendidikan dapat dibantu oleh kepala sekolah untuk melakukan kunjungan kelas ataupun ketika melakukan penilaian. Supervisor disini tidak boleh bersifat menghakimi, disini supervisor menjadi patner untuk bersama-sama mebantu para tenaga pendidikan maupun non kependidikan untuk menyelesaikan segala masalah dan kesulitan-kesulitan yang dialami.

  1. Saran

Untuk supervisor-supervisor yang telah ditunjuk seharusnya melaksanakan tugasnya dengan baik dan sesuai dengan prosedur tidak ada unsur subyektifitas, atau unsur kesengajaan untuk menutup-nutupi kesalahan yang ada diskeolah. semuanya harus sesuai dengan kondisi dan situasi dari lingkungan sekolah berdasarkan penilaian atau pengawasan yang telah dilakukan.

DAFTAR RUJUKAN

Nurdin, Diding. Administrasi pendidikan supervisi pendidikan. (online), (http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._ADMINISTRASI_PENDIDIKAN/197108082001121-DIDING_NURDIN/SUPERVISI_PENDIDIKAN.pdf). Diakses 18 Mei 2013.

Aedi, Nur. Teknik supervisi. (online), (http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._ADMINISTRASI_PENDIDIKAN/197205282005011-NUR_AEDI/4-25/BAB_3_teknik_supervisi_%5BNur_Aedi%5D.pdf). Diakses 18 Mei 2013

Kurniady, Dedy Achmad. 2005. Pengelolaan pendidikan teori/supervisi pendidikan. (online), (http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._ADMINISTRASI_PENDIDIKAN/19710609200501-DEDY_ACHMAD_KURNIADY/Pengelolaan_Pendidikan_Teori/SUPERVISI_PENDIDIKAN.pdf). Diakses 18 Mei 2013.

Sutiman. 2011. Supervisi pendidikan. (online), (eprints.uny.ac.id/733/1/Supervisi___Pendidikan-sem-7.pdf). Diakses 18 Mei 2013.

This entry was posted in PELAKSANAAN SUPERVISI PENDIDIKAN (UMUM) DISEKOLAH and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s