MOTIVASI KINERJA GURU MELALUI SUPERVISI KLINIS

MOTIVASI KINERJA GURU MELALUI SUPERVISI KLINIS

 

Dewi Fujianah

Nim 101714203

 

Program Studi Manajemen Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya

Abstrak

Perkembangan dalam dunia pendidikan yang selalu berubah dan standart kelulusan yang ditetapkan oleh pemerintah yang semakin tinggi berdampak pada pengelolaan proses pendidikan didalamnya. Melihat hal tersebut mengharuskan kepala sekolah yaitu sebagai pimpinan tertinggi lebih memahami dan selalu mengawasi sistem kerja yang terjadi disekolah. Sistem kerja yang memiliki pengaruh terbesar dalam sekolah yaitu ada pada proses pembelajaran didalam kelas, hal ini secara langsung melibatkan masing-masing guru bidang studi. Tuntutan yang harus dipenuhi dalam kemampuan dan profesional dalam kinerja sangat dibutuhkan untuk menunjang sebuah kesuksesan pengelolaan pembelajaran. Jika guru tidak dapat memenuhi tuntutan tersebut maka kepala sekolah sebagai pimpinan tertinggi membantu untuk mencari solusi dan menanyakan dengan melakukan pendekatan ataupun guru bisa datang kepada kepala sekolah dengan bercerita kesuitan-kesulitan apa saja yang telah di hadapi, agar kepala sekolah dapat dengan segera memberikan saran dan membantu untuk penyelesaiannya. Didalam pemberian saran ini dibutuhkan pula motivasi dari kepala sekolah agar guru dapat sadar dan percaya diri untu melaksanakan tugasnya didalam sekolah sehingga secara perlahan dapat melakukan perbaikan didalam dirinya dan memperbaiki kinerjanya.

Kata Kunci: Supervisi Klinis, Motivasi, Kinerja

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan suatu sistem kerja yang saling terkait antara komponen yang satu dengan lainnya. Yang mana di negara Indonesia ini memiliki berjuta-juta penduduk dari berbagai suku dan ras yang banyak mengalami pengangguran. Hal ini dikarenakan daya saing yang semakin tinggi dan lahan pekerjaan yang semakin rumit yang diakibatkan oleh tingginya tuntutan yang harus dipenuhi ketika didalam bekerja. Tuntutan tersebut biasanya berupa kualitas yang harus dimiliki oleh setiap pekerja. Berbicara mengenai kualitas tidak terlepas dari pengelolaan sistem yang ada di dunia pendidikan. Dalam pengelolaan tersebut khususnya disekolah secara langsung maupun tidak dipegang oleh pimpinan tertinggi dan dibantu oleh staf dibawahnya.

Pengelolaan sekolah yang baik menentukan proses pembelajaran dan proses pengajaran yang ada disekolah. Yang secara langsung proses pengajaran dan pembelajaran ini dipengaruhi oleh kinerja seorang guru di masing-masing bidang studi ketika mereka berada didalam kelas. Melihat fenomena diatas mengharuskan suatu perubahan untuk memenuhi sebuah kualitas khususnya dalam bidang pendidikan. perubahan tersebut dimulai dari hal terkecil yaitu perekrutan seorang guru untuk masuk sekolah. di dalam pengambilan pegawai utamanya guru harus benar-benar diperhatikan tingkat pendidikan dan kualitas mengelola kelas. Hal ini diperlukan karena faktanya sekarang rendahnya mutu pendidikan di pengaruhi dari kinerja guru yang kurang baik sehingga proses pembelajaran terhambat dan pengelolaan kelas tidak kondusif akibatnya materi tidak tersampaikan dengan tepat kepada para peserta didik yang berada di dalam kelas. Disni guru seharusnya menyadari akan kemampuan yang dimilikinya. yang bisa merasakan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya yaitu hanya dari diri guru itu sendiri, karena yang diharapkan dari seorang guru ketika mengajar dikelas yaitu ia dapat menguasai dan memahami materi yang akan disampaikan dan dapat melakukan pengelolaan kelas dengan baik. Tuntutan yang harus dipenuhi oleh seorang guru tentunya tidak mudah bagi seorang guru dapat melakukan semua hal tersebut, dibutuhkan suatu cara atau teknik yang tepat yang harus dikuasai oleh seorang guru untuk menunjang aktifitasnya ketika melakukan pengajaran di sekolah maupun di luar sekolah.

Menurut Hasibuan (1999:126) menjelaskan kinerja mempunyai hubungan yang erat dengan masalah produktivitas, karena merupakan indikator dalam menentukan bagaimana usaha untuk mencapai tingkat produktivitas yang tinggi dalam suatu organisasi. Hasibuan menyatakan bahwa produktivitas adalah perbandingan antara keluaran (output) dengan masukan (input). Menurut Mitchell (Sedarmayanti, 2001:51), menyatakan bahwa kinerja meliputi beberapa aspek yaitu : 1) Quality of Work, 2) Promptness, 3) Initiative, 4) capability, dan 5) communication yang dijadikan ukuran dalam mengadakan pengkajian tingkat kinerja seseorang.  Sesuai dengan  aspek kinerja dari seorang guru tersebut diatas terdapat banyak  penyimpangan yang telah terjadi diantaranya yaitu banyak guru yang belum mempunyai kelima aspek yaitu quality of work (kualitas kerja), promptness    ( ketepatan), initiative (inisiatif), capability (kemampuan) dan communication (komunikasi). Untuk dapat melengkapi semua aspek kinerja tersebut dibutuhkan pula sebuah motivasi untuk menunjang rasa percaya diri dari guru tersebut demi mencapai sebuah kemampuan dan kualitas kinerja dari guru. Yang mana motivasi disini menurut Ernest L McConnick (Mangkunegara, 2002:94) yaitu “motivasi kerja didefinisikan sebagai kondisi yang berpengaruh membangkitkan, mengarahkan dan memelihara perilaku yang berhubungan dengan lingkungan kerja”.

Dan motivasi tersebut dapat diberikan oleh pimpinan tertinggi disekolah yaitu kepala sekolah. proses pemberian arahan dan masukkan seperti inilah yang biasanya dikenal dengan sebutan supervisi klinis. Disini guru dapat bercerita atau kepala sekolah yang aktif untuk mengetahui apa saja permasalahn yang dihadapi oleh guru seputar kinerja yang dilaksanakanya.dan kepala sekolah memberikan saran dan masukan mengenai permasalahan yang terjadi serta jika megenai permasalahn dikelas kepala sekolah dapat ikut mendampingi selama proses  pembelajaran berlangsung dan disana dapat dilihat kekurangan-kekurangan apa saja yang perlu di perbaiki. Semua ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas, kemampuan dan keprofseionalan dari seorang guru untuk memperbaiki kinerjanya.  Supervisi klinis mempunyai arti Suatu proses bimbingan yang bertujuan membantu pengembangan kemampuan professional guru/calon guru, khususnya dalam penampilan mengajarnya, berdasarkan hasil observasi dan analisis data secara teliti dan obyektif. Pelaksana dari sepervisi klinis dinamakan Supervisor. Subjek dari supervisi klinis adalah kepala sekolah, sebagai kewajiban dari kepala sekolah adalah melakukan pendampingan dan pembinaan terhadap para tenaga pendidikan.

Menurut Danim dan Khairil (2010: 78) mengatakan bahwa Pelaksanaan supervisi klinis yaitu untuk meningkatkan kemampuan profesional guru melalui perbaikan kinerja dari gurunya, yang mana pelaksanaan supervisi klinis dilakukan melalui tahapan-tahapan 1). Praobservasi, hal ini berisi pembicaraan dan kesepakatan antara supervisor dengan guru mengenai apa permasalahan yang dihadapi oleh guru atau apa yang akan diamati dan diperbaiki dari pengajaran yang dilakukan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana permasalahan yang dialami guru selama melakuakn pengajaran didalam kelas yang nantinya bisa dilakukan perbaikan untuk menambah atau memperbaiki metode pengajaran yang dilakukan dikelas. 2). Observasi, yaitu supervisor mengamati guru dalam mengajar sesuai dengan fokus yang telah disepakati. Disini supervisor yaitu kepala sekolah mengikuti langsung jalannya pembelajaran dikelas yang dilakukan oleh guru namun dengan membawa instrumen supervisi yang telah disepakati bersama. 3). Analisis permasalahan yang dilakukan secara bersama oleh supervisor dengan guru terhadap hasil pengamatan. Setelah melakukan observasi dikelas maka kepala sekolah memberikan masukan dan saran mengenai permasalahan yang dihadapi dengan hasil sesudah dilakukannya supervisi apakah masih ada kekurangan dalam pengajaran dan pengelolaan kelasnya. Jika masih terdapat kekurangan maka selanjutnya 4). Perumusan langkah-langkah perbaikan dan pembuatan rencana untuk perbaikan. Tahapan yang terakhir ini yaitu memberikan alternatif penyelesaian yang akan dilakukan untuk pengajaran selanjutnya.

Semua hal tersebut dapat dilakukan oleh seorang kepala sekolah di dalam mencapai suatu tujuan. Dan untuk mencapai suatu tujuan tersebut tentunya dibutuhkan pula suatu pengawasan yang tujuannya yaitu untuk mencapai suatu ketercapaiaan target melalui evaluasi kinerja bersama.

 

ISI

  1. Konsep Dasar Supervisi Klinis
  2. Perkembangan Supervisi Klinis

Pada awalnya supervisi klinis diperkenalkan dan dikembangkan Morris L. Cogan, dan Robert Goldhammer dari Universitas Harvard School of Education pada akhir tahun 1950. Ada dua asumsi yang mendasari supervisi klinis sebagaimana dijelaskan oleh sergiovanmi yaitu sebagai berikut: (a) pengajaran merupakan aktivitas yang sangat kompleks yang memerlukan pengamatan dan analisis secara hati-hati. Melalui pengamatan dan analisis ini, supervisor pengajaran akan mudah mengembangkan kemampuan guru dalam mengelola proses belajar-mengajar dikelas. (b) guru-guru yang ingin mengembangkan profesionalismenya lebih menghendaki cara yang kolegikal daripada cara autoritarian. (Bafadal, 1992:90).

Ada beberapa faktor yang ikut mendorong perkembangan supervisi klinis, salah satu faktornya adalah supervisi umum. Pada dasarnya supervisi umum dalam prakteknya dilaksanakan seperti evaluasi, sehingga supervisi ini sering tidak disukai, bahkan cenderung ditolak, baik secara terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi. Hariwung (1989:221-224) mengemukakan ada beberapa praktik supervisi umum yang banyak tidak disukai oleh para guru, yaitu:

1)      Pemberian supervisi umum didasarkan pada kebutuhan/keinginan para supervisor, oleh karena itu guru/calon guru kurang merasakan keuntungannya.

2)      Dalam supervisi umum sasaran pengamatan supervisor terlalu umum dan luas, sehingga pemberian umpan balik terlalu sukar dan sering tidak terarah.

3)      Pemberian upan balik sering menjadi pertemuan pengarahan, bahkan instruksi-instruksi dan tidak melibatkan guru/calon guru dalam menganalisis dirinya serta tidak memberikan cara-cara untuk memperbaiki/mengembangkan dirinya.

Dari pemaparan diatas, dapat diketahui bahwasannya supervisi mengalami perkembangan, hal ini dikarenakan adanya kebutuhan guru terhadap supervisi yang lebih demokratis dan lebih mampu membantu guru untuk meningkatkan kemampuan/keterampilan guru dalam proses belajar mengajar dikelas. Untuk lebih jelasnya perkembangan dari supervisi umum menjadi supervisi klinis dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 2.1

Aspek perkembangan supervisi umum menjadi supervisi klinis

No Aspek Perkembangan Supervisi Umum Supervisi Klinis
1 Prakarsa dam Tanggung  Jawab Terutama oleh Supervisor Supervisor dan Guru
2 Hubungan Supervisor-Guru Realisasi atasan-bawahan Realisasi kolegikal yang sederajat dan interaktif
3 Sifat Supervisi Cenderung direktif/otokratif Bantuan yang demokratis
4 Sasaran Supervisi Sesuai keinginan Supervisor Sesuai kebutuhan guru dan dikaji secara bersama supervisor
5 Tujuan Supervisi Cenderung evaluatif Bimbingan yang analitik dan deskriptif
6 Balikan Samar-samar atau kesimpulan supervisor Dengan analisis dan interpretasi bersama antara supervisor dengan guru

Sumber : http://jssukardjo.staff.fkip.uns.ac.id/2009/04/08/pengertian-prinsip-dan-prosedur-supervisi-klinis

  1. Landasan Supervisi Klinis

Terdapat beberapa landasan yuridis yang mendasari pentingnya kegiatan supervisi klinis pada tingkat satuan pendidikan. Landasan yuridis tersebut diantaranya dijelaskan sebagai berikut:

  1. Landasan Yuridis

1)        Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional : Bahwa sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan.

2)        Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen : Bahwa untuk menjamin perluasan dan pemerataan akses, peningkatan mutu dan relevansi, serta tata pemerintahan yang baik dan akuntabilitas pendidikan yang mampu menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global perlu dilakukan pemberdayaan dan peningkatan mutu guru dan dosen secara terencana, terarah, dan berkesinambungan.

3)        Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2007 Tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah : Pasal 1 (1) untuk diangkat sebagai kepala sekolah/madrasah, seseorang wajib memenuhi standar kepala sekolah/madrasah yang berlaku nasional. (2) Standar kepala sekolah/madrasah sebagimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini. Yaitu salah satunya kompetensi supervisi yang meliputi : 1. Merencanakan rogram supervisi pengajaran dalam rangka peningkatan profesinalisme guru, 2. Melaksanakan supervisi pengajaran terhadap guru dengan menggunakan pendekatan dan teknik supervisi yang tepat, serta 3. Menindaklanjuti hasil supervisi pengajaran terhadap guru dalam rangka peningkatan profesionalisme guru.

4)        Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik indonesia Nomor 16 Tahun 2007 Tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru : pasal 1 (1) setiap guru wajib memenuhi standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru yang berlaku secara nasional. (2) Standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru sebagaimana dimaksud ayat (1) tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini. Pasal 2 ketentuan mengenai guru dalam jabatan yang belum memenuhi kualifikasi akademik diploma empat (D-IV) aau sarjana (S1) akan diatur dengan Peraturan Menteri sendiri

  1. Pengertian Supervisi Klinis

Menurut Ngalim Purwanto, supervisi adalah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif. Sutisna (Arikunto, 2004:11) Mengatakan Definisi supervisi adalah segala sesuatu dari pejabat sekolah yang diangkat yang diarahkan kepada penyediaan kepemimpinan bagi para guru dan tenaga pendidikan lain dalam perbaikan pengajaran, melihat stimulasi pertumbuhan professional dan perkembangan dari para guru, seleksi dan revisi tujuan-tujuan pendidikan,bahan pengajaran, dan metode-metode mengajar, dan evaluasi pengajaran.

Wiles (Arikunto, 2004:11) Supervisi adalah bantuan dalam pengembangan situasi belajar-mengajar agar memperoleh kondisi yang lebih baik. Supervisi dapat diartikan sebagai layanan professional, layanan professional tersebut berbentuk pemberian bantuan kepada personil sekolah dalam meningkatkan kemampuannya sehingga lebih mampu mempertahankan dan melakukan perubahan penyelenggaraan sekolah dalam rangka meningkatkan pencapaian tujuan sekolah.

Jadi dari beberapa pengertian diatas mengindikasikan bahawa supervisi klinis adalah suatu bimbingan yang dilakukan oleh kepala sekolah terhadap guru untuk membantu para guru menyelesaikan permasalahan atau kesulitan yang sedang dihadapinya demi mencapai suatu perubahan untuk mencapai sebuah kualitas yang telah ditentukan.

  1. Tujuan Supervisi Klinis
    1. Tujuan Umum

Secara umum Supervisi klinis bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan mengajar guru di kelas. Hubungan ini supervisi klinis merupakan kunci untuk meningkatkan kemampuan professional guru.

  1. Tujuan Khusus

Secara khusus Supervisi klinis bertujuan untuk:

1)      Menyediakan suatu balikan yang objektif dalam kegiatan mengajar yang dilakuakan guru dengan berfokus terhadap:

a)    Kesadaran dan kepercayaan diri dalam mengajar.

b)   Keterampilan-keterampilan dasar mengajar yang diperlukan.

2)      Mendiagnosis dan membantu memecahkan masalah-masalah pembelajaran.

3)      Membantu guru mengembangkan keterampilan dalam menggunakan strategi-strategi pembelajaran.

4)      Membantu guru mengembangkan diri secara terus menerus dalam karir dan profesi mereka secara mandiri.

Jadi dari tujuan diatas dapat diindikasikan bahwa untuk tujuan supervisi klinis yaitu untuk memperbaiki dan membantu para guru ketika mengalami kesulitan didalam kinerjanya demi mencapai suatu kinerja yang berkualitas.

  1. Prosedur Pelaksanaan Supervisi Klinis

Menurut sukirman (1998:89-90) supervisi klinis meliputi beberapa siklus, yaitu : pra observasi, observasi kelas, analisis hasil observasi, dan pembicaraan hasil observasi.

  1. Tahap pertemuan pendahuluan (pra observasi)

Kegiatan supervisor dan guru dalam tahap pertemuan pendahuluan adalah membicarakan rencana tentang keterampilan yang akan diobservasi dan dicatat. Tahap pertemuan pendahuluan memberikan kesempatan kepada guru dan supervisor untuk mengidentifikasi perhatian utama guru kemudian menterjemahkan ke dalam bentuk tingkah laku yang dapa diamati.

Pelaksanaan pertemuan pendahuluan juga membicarakan dan menentukan jenis data mengajar yang akan diobservasi dan dicatat selama pelajaran berlangsung. Pada tahapan ini komunikasi yang efektif dan terbuka sangat diperlukan guna mengikat supervisor dan guru didalam suasana kerja yang harmonis. Suwarna, dkk (2005:183) mengemukakan bahwa secara teknis diperlukan lima langka utama bagi terlaksananya pertemuan pendahuluan yang baik, yaitu:

1)   Menciptakan suasana intim dan terbuka antara supervisor dan guru/calon guru sebelum langkah-langkah selanjutnya dibicarakan.

2)   Membicarakan rencana pelajaran yang telah dibuat oleh guru yang mencakup tujuan, bahan, kegiatan belajar mengajar, serta alat evaluasinya.

3)   Mengidentifikasi komponen keterampilan (beserta indikatornya) yang akan dicapai oleh guru/calon guru dalam kegiatan mengajar/latihan praktek mengajar tersebut, misalnya guru/calon guru yang berlatih menguasai keterampilan bertanya.

4)   Mengembangkan atau memilih instrumen observasi yang akan digunakan, merekam data dalam penampilan guru/calon guru sesuai dengan persetujuan dan kesepakatan tentang keterampilan beserta indikatornya.

5)   Instrumen observasi yang dipilih atau yang akan dikembangkan, dibicarakan bersama antara guru dan supervisor.

  1. Tahap observasi kelas (kunjugan kelas)

Fungsi utama observer adalah “menangkap” apa yang terjadi selama pelajaran berlangsung secara lengkap, agar supervisor dan guru dapat dengan tepat mengingat kembali hal-hal yang terjadi dalam pembelajran sebelumnya. Adapun tujuan dari kunjungan kelas adalah agar analisis dapat dibuat seobjektif mungkin, dan ide pokok dalam observasi ini adalah mencakup apa yang terjadi selama pelajaran berlangsung sehingga dapat digunakan dalam analisis dan komentar.

Suwarna (2005:183) mengemukakan hal-hal yang harus dilakukan pada saat pelaksanaan observasi antara lain guru melatih tingkah laku mengajar berdasarkan komponen keterampilan yang telah disepakati dalam pertemuan pendahuluan. Di pihak lain supervisor mengamati dan mencatat atau merekam tingkah laku guru ketika mengajar. Supervisor juga dapat mengadakan observasi dan mencatat tingkah laku siswa dikelas serta interaksi siswa dengan guru.

  1. Tahap analisis hasil observasi

Pada tahapan ini kepala sekolah menganalisis hasil observasi berdasarkan pengamatannya ketika menilai keterampilan mengajar guru didalam kelas. Pada tahapan ini suwarna (2005:183) berpendapat bahwa “hasil observasi yang ada dianalisis dan dimaknai oleh kepala sekolah, sehingga dapat digunakan sebagai bekal diskusi dengan guru”. Dari pemaparan ini dapat disimpulkan bahwasannya dengan tahap analisis hasil observasi ini, kepala sekolah dapat mengetahui kekurangan/kelemahan guru yang harus diperbaiki oleh guru, dimana hal ini juga dapat digunakan sebagai bahan diskusi dengan guru pada tahap berikutnya.

  1. Tahap pertemuan balikan (pembicaraan hasil observasi dan tindak lanjut oleh guru)

Pertemuan balikan ini merupakan diskusi umpan balik antara supervisor dengan guru/calon guru. Suasana pertemuan sama dengan suasana pertemuan pendahuluan yaitu suasana akrab, terbuka, bebas, dari suasana menilai atau mengadili. Supervisor menyajikan data sedemikian rupa sehingga guru/calon guru dapat menemukan kekurangan dan kelebihannya sendiri. Secara lebih rinci langkah-langkah pertemuan balikan ini adalah

1)   Menanyakan perasaan guru tentang apa yang dialaminya dalam mengajar secara umum. Hal ini untuk menciptakan suasana santai, agar guru/calon guru tidak merasa diadili.

2)   Meriview tujuan pelajaran.

3)   Meriview target keterampilan serta perhatian utama guru dalam mengajar.

4)   Menanyakan perasaan guru tentang jalannya pelajaran berdasarkan target dan perhatian utamanya.

5)   Menunjukkan serta mengkaji hasil observasi.

6)   Supervisi yang diberikan bersifat bantuan dengan tujuan untuk meningkatkan keterampilan mengajar dan sikap profesional.

7)   Menanyakan perasaan guru/calon guru tentang proses dan hasil pelajaran tersebut.

8)   Menyimpulkan hasil dengan melihat apa yang sebenarnya telah terjadi/tercapai.

9)   Menentukan secara bersama rencana mengajar/latihan praktek mengajar yang akan datang baik berupa dorongan untuk meningkatkan hal-hal yang belum dikuasai dalam kegiatan yang baru berlaku, maupun keterampilan yang masih perlu disempurnakan.

Sunarwan, dkk (2005:184) mengemukakan ada beberapa manfaat dari pembicaraan hasil analisis (balikan), yaitu :

1)      guru mendapat penguatan dan kepuasan sehingga termotivasi untuk meningkatkan kinerjanya.

2)      isu-isu terbaru dapat didefinisikan bersama antara supervisor dan guru.

3)      supervisor dapat memberikan bantuan didaktis untuk perbaikan keterampilan-keterampilan yang dianggap lemah.

4)      guru dilatih atau dibimbing agar dapat melaksanakan supervisi diri sendiri.

5)      supervisor dapat membantu keterampilan analisis profesional diri pada masa mendatang.

  1. Motivasi

Motivasi adalah perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan (Hamalik, 1992:173). Menurut Mulyasa (2003:112) motivasi adalah tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu. Peserta didik akan bersungguh-sungguh karena memiliki motivasi yang tinggi. Seorang siswa akan belajar bila ada faktor pendorongnya yang disebut motivasi.Menurut Dunham (2005:37) bahwa : “Motivation is the will to make effective effort:”. (motivasi adalah kemauan untuk membuat usaha yang efektif).

Menurut Hasibuan (2003:92) “motivasi berasal dari kata latin movere yang berarti “dorongan atau daya penggerak”. Motivasi ini hanya diberikan kepada manusia, khususnya kepada para bawahan atau pengikut. Menurut Fillmore H. Stanford (Mangkunegara, 2002:93) “bahwa motivasi sebagai suatu kondisi yang menggerakkan manusia ke arah suatu tujuan tertentu”. Dalam hubungannya dengan lingkungan kerja, Ernest L McConnick (Mangkunegara, 2002:94) mengemukakan “motivasi kerja didefinisikan sebagai kondisi yang berpengaruh membangkitkan, mengarahkan dan memelihara perilaku yang berhubungan dengan lingkungan kerja”

Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkn bahwa motivasi adalah suatu dorongan yang diberikan oleh seseorang untuk memenuhi kebutuhan orang tersebut dalam perbaikan diri untuk berprestasi. Motivasi ini sangat penting dilakukan karena dengan adanya motivasi maka seseorang dapat lebih percaya diri untuk melakukan sesuatu karena ia merasa banyak orang yang mendukung dan peduli terhadap dirinya.

  1. Kinerja Guru

Smith dalam (Mulyasa, 2005: 136) menyatakan  bahwa kinerja adalah “…..output drive from processes, human or otherwise”. Kinerja merupakan hasil atau keluaran dari suatu proses. Dikatakan lebih lanjut oleh Mulyasa bahwa kinerja atau performance dapat diartikan sebagai prestasi kerja, pelaksanaan kerja, pencapaian kerja, hasil-hasil kerja atau unjuk kerja. Kinerja merupakan suatu konsep yang bersifat universal yang merupakan efektifitas operasional suatu organisasi, bagian organisasi, dan karyawannya berdasarkan standar dan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya.

Menurut Prawirasentono (1999: 2): “Performance adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing, dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi yang bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral ataupun etika”. Kinerja guru adalah kemampuan dan usaha untuk meaksanakan tugas sebaik baiknya  dalam perencanaan program pengajaran, pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Kinerja guru yang harus dicapai tentu berdasarkan kemampuan profesional selama melaksanakan tugas disekolah individu, proses dan hasil. Kinerja dapat dlihat dari beberapa kriteria, menurut Castetter ( dalam mulyasa, 2003) “ ada empat kriteria kinerja yaitu ; (1) Karakteristik individu, (2) Proses, (3) Hasil dan (4) Kombinasi antara karakter”.

Dari beberapa pengertian diatas mengenai kinerja dapat di indikasikan bahwa kinerja yaitu suatu usaha yang dilaksanakan sehingga menghasilkan suatu kualitas dari hasil pencapaian seseorang. Untuk pelaksanaan kinerja harusnya disesuaikan dengan kemampuan dan keahlian seseorang dalam bidangnya, sehingga kinerja yang akan dihasilkan pun dapat maksimal.

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Menurut Ngalim Purwanto, supervisi adalah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif.

Menurut Ernest L McConnick (Mangkunegara, 2002:94) mengemukakan “motivasi kerja didefinisikan sebagai kondisi yang berpengaruh membangkitkan, mengarahkan dan memelihara perilaku yang berhubungan dengan lingkungan kerja”

Menurut Mulyasa bahwa kinerja atau performance dapat diartikan sebagai prestasi kerja, pelaksanaan kerja, pencapaian kerja, hasil-hasil kerja atau unjuk kerja.

Ketiga hal tersebut secara langsung maupun tidak langsung saling berkaitan erat didalam sebuah sekolah, karena dari motivasi yang diberikan oleh kepala sekolah melalui supervisi klinis maka dapat menghasilkan sebuah kinerja yang bagus dan dengan adanya supervisi klinis tersebut kesulitan-kesulitan yang dialami oleh guru juga dapat teselesaikan dengan cepat tanpa harus menunda. Namun untuk kelancaran semua tugas tersebut kuncinya yaitu adanya suatu kesepakatan antara kepala sekolah dengan guru untuk sama-sama menyelesaikan dan mecari solusi demi mencapai sebuah profesionalitas. Karena kinerja yang baik akan berkontribusi terhadap produktivitas dan produktivitas akan berkontribusi terhadap kepuasan karyawan dalam suatu organisasi.

  1. Saran

Untuk semua sekolah yang ada indonesia seharusnya menerapkan supervisi klinis ini, hal ini dikarenakan, dari pelaksanaan atau kegiatan supervis klinis ini dapat dijadikan suatu perubahan untuk perbaikan kinerja dari guru dan untuk menunjang keberlangsungan manajemen yang ada disekoalah. Sedangkan untuk sekolah yang sudah menerapkan kegiatan ini maka lebih ditekankan kembali untuk pemberian saran, solusi dan motivasi agar semua kesulitan-kesulitan yang dihadapi penangannya dapat sesuai dan tidak memberatkan hati atau kegiatan dari para guru.

DAFTAR RUJUKAN

Bulow, Irma Djanapa. Diklat profesi kinerja guru.(online),  (http://bdkmanado.kemenag.go.id/file/dokumen/IrmaDiklatProfesiKinerjaGuru.pdf). Diakses 18 Mei 2013

Faisal. metodologi penelitian. (online). (http://lib.uin-malang.ac.id/thesis/chapter_iii/09770005-fitriyatul-h.ps, diakses tangga 12 desember 2012).

Hanif,H. (online), (eprints.uny.ac.id/7965/3/bab%202%20-10504247012.pdf). diakses 18 Mei 2013.

IPB. 2009. Metodologi penelitian. (online), (http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/12247/BAB%20III%20Metodologi%20Penelitian_%20I09fha.pdf?sequence=7 , diakses tanggal 12 desember 2012).

JS.Sukardjo. 1989. Pengertian , prinsip dan prosedur supervsi klinis. (online), (http://jssukardjo.staff.fkip.uns.ac.id/2009/04/08/pengertian-prinsip-dan-prosedur-supervisi-klinis/, diakses tanggal 12 desember 2012).

Lexy J. Moleong. 2005. metodologi penelitian kualitatif. (online), (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2005).

Sarjanaku. 2012. Pengertian motivasi menurut para ahli. (online), (http://www.sarjanaku.com/2012/04/pengertian-motivasi-menurut-para-ahli.html). Diakses 18 Mei 2013

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, (bandung: citra Umbara, 2007).

This entry was posted in MOTIVASI KINERJA GURU MELALUI SUPERVISI KLINIS and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s